Ini yang Dirasakan Roro Fitria karena Sidang Tuntutan Narkotika Ditunda

Roro Fitria merasa kecewa kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang menunda pembacaan tuntutan atas kasus narkotika yang menjeratnya.

Penulis: Arie Puji Waluyo | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Roro Fitria kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (5/7/2018). 

ARTIS peran Roro Fitria merasa kecewa kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang menunda pembacaan tuntutan atas kasus narkotika yang menjeratnya.

Pasalnya, Roro Fitria kembali menjalani persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2018).

"Kecewa sih, tapi saya harus mengikuti semua prosedurnya sampai hari Kamis besok," kata Roro Fitria usai persidangan.

Roro pun terlihat sedih dan meneteskan air mata, usai menjalani persidangan.

Ia mengaku sedih, lantaran kondisi kesehatannya kurang membaik karena istirahatnya kurang selama di Rumah Tahanan.

"Saya sedih. Migrain saya," ungkap Roro Fitria.

Sidang pembacaan tuntutan ditunda oleh Majelis Hakim, lantaran berkas tuntutannya belum siap dari pihak JPU. Sehingga, sidang dilanjutkan pada Kamis 4 Oktober 2018.

Diberitakan sebelumnya, Roro Fitria didakwa pasal berlapis atas kasus dugaan kepemilikan dan penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang menjeratnya.

Roro Fitria didakwa tiga pasal, yakni Pasal 112 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika (menyimpan, menguasai, memiliki), Pasal 127 Ayat 1 huruf a Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (penyalahgunaan), dan Pasal 132 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (pemufakatan jahat).

Roro Fitria ditangkap oleh pihak kepolisian pada 14 Februari 2018, di kediamannya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang diduga memesan narkotika sabu-saeberat tiga gram.

Roro memesan sabu-sabu kepada fotografernya yang bernama Wawan, dengan harga Rp. 5 juta, dengan rincian Rp. 4 juta untuk membeli sabu dan Rp. 1 juta untuk jasa pemesanan.

Akan tetapi, pemesanan yang hanya 3 gram itu, hanya tersedia sebanyak 2 gram.

Kemudian, Roro meminta sabu-sabu itu dikirim menggunakan jasa ojek online.

Roro menggunakan nama orang tuanya, untuk melakukan pemesanan ojek online, agar sabu-sabu dikirim ke kediamannya kala itu.

Namun, Roro kaget ketika ojek online tiba dengan WH dan polisi.

Polisi kemudian menangkap Roro di tempat berikut barang bukti dan menggeledah rumah orangtua Roro. (ARI)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved