Breaking News:

Kekejaman G30S PKI

Sejumlah Tokoh Bangsa yang Dianggap Kiri Seperti Sutan Sjahrir dan Tan Malaka Turut Jadi Korban

Bak suratan takdir, nasib tokoh-tokoh "kiri" hampir seragam: cepat populer, cepat pula terpinggirkan.

Editor: Gede Moenanto
Intisari
Tahun 1964, Sjahrir yang sakit keras diperbolehkan berobat di Zurich, Swiss. Di negara berhawa sejuk itu, ia menghembuskan napas terakhir, dua tahun berselang. 

Di sekitar Januari 1946, ibukota Rl sempat dipindahkan ke Yogyakarta karena Jakarta tidak lagi aman.

Sempat terjadi kekisruhan. Belanda tidak mau datang ke Yogyakarta untuk berunding, sama seperti Pemerintah Indonesia yang enggan datang ke Jakarta.

Akhirnya dipilihlah Linggajati, sebuah desa di daerah Kuningan, Jawa Barat.

Delegasi Belanda datang dengan kapal sendiri ke Cirebon.

Di sini, pemimpin kita telah memanfaatkan simbol diplomatis dalam menghadapi Belanda.

Kapal Belanda itu tidak diperbolehkan merapat di Pelabuhan Cirebon karena ini merupakan daerah teritorial Indonesia.

Sebaliknya, Belanda juga berkeberatan bila diangkut dengan kapal Indonesia.

Akhirnya, dicapai kompromi, delegasi Belanda diturunkan ke sekoci mereka dan dikawal oleh kapal Indonesia.

Di meja perundingan, Belanda mengakui Indonesia secara de facto, meski terbatas pada P. Jawa, Sumatra, dan Madura. Pihak oposisi yang bergabung dalam PP (Persatuan Perjuangan) yang terdiri atas 141 partai dan organisasi menolak perjanjian tersebut.

Mereka berpendirian, syarat perundingan adalah bila Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 100%.

Wacana apakah perjuangan harus memakai jalan perundingan atau dengan gerilya memang mewarnai tahun-tahun awal republik ini sampai dengan tahun 1949.

Sjahrir yang punya julukan "Bung Kecil" ini tak patah semangat oleh segala kritik. Dia terus mengejar pengakuan internasional.

Pasca Perjanjian Linggajati, pengakuan de facto berturut-turut datang dari Inggris (31 Maret 1947), Amerika Serikat (23 April 1947), dan Mesir (1 Juni 1947).

Sjahrir juga menugaskan H. Agus Salim ke negara-negara Arab, sehingga datang pula pengakuan dari Lebanon, Suriah, Irak, Afganistan, Saudi Arabia, dan Yaman.

Begitu hebatnya pergolakan politik di tahun-tahun awal kemerdekaan, memaksa Sjahrir turun panggung. Kabinet Sjahrir pun berganti menjadi Kabinet Amir Sjarifuddin pada 1947.

Tapi, Sjahrir sendiri masih dipercaya Presiden Soekarno untuk memimpin delegasi Indonesia ke Sidang Umum PBB.

Di forum inilah, ia membuka mata dunia, mematahkan argumen-argumen diplomat senior Belanda, Van Kleffens, lewat pidatonya pada 14 Agustus 1947.

Kerja keras Sjahrir yang punya julukan "Bung Kecil" dan diplomat-diplomat lainnya berhasil menjadikan Indonesia sebagai topik yang dibicarakan secara internasional.

Setelah itu, sang meteor seperti menghujam Bumi. Namanya tidak banyak kedengaran lagi di tahun 1950-an. la sempat memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang di luar dugaan kalah dalam pemilihan umum tahun 1955.

Meski banyak pihak memaklumi karena Sjahrir memang menjadikan partai tersebut sebagai partai kader, bukan partai massa.

Tahun 1958, terjadi pemberontakan PRRI/Permesta.

Ada aktivis PSI yang terlibat dalam peristiwa itu, seperti Soemitro Djojohadikusumo.

Namun, PSI sebagai organisasi sendiri sebenarnya bukan dalang pemberontakan tersebut.

Toh, Sjahrir kena getahnya. la ditangkap pada 1962, dengan alasan yang terkesan dicari-cari oleh pihak keamanan.

Dia dituduh terlibat perencanaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, tuduhan yang sama sekali tidak pernah terbukti.

Tahun 1964, Sjahrir yang sakit keras diperbolehkan berobat di Zurich, Swiss.

Di negara berhawa sejuk itu, ia menghembuskan napas terakhir, dua tahun berselang.

Sjahrir pun dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved