Breaking News:

Kekejaman G30S PKI

Sejumlah Tokoh Bangsa yang Dianggap Kiri Seperti Sutan Sjahrir dan Tan Malaka Turut Jadi Korban

Bak suratan takdir, nasib tokoh-tokoh "kiri" hampir seragam: cepat populer, cepat pula terpinggirkan.

Intisari
Tahun 1964, Sjahrir yang sakit keras diperbolehkan berobat di Zurich, Swiss. Di negara berhawa sejuk itu, ia menghembuskan napas terakhir, dua tahun berselang. 

Dalam Kongres I Pendidikan Nasional Indonesia di Bandung, Juni 1932, Sjahrir terpilih sebagai ketua umum. Ketika Hatta pulang tahun 1933, "perjanjian" di antara mereka langsung berlaku.

Jabatan pimpinan organisasi diserahkan kepada Hatta, sementara Sjahrir bersiap-siap kembali ke Belanda.

Tapi, apa daya, nasib berkata lain, belum sempat meninggalkan tanah air, Sjahrir yang juga aktif di organisasi kaum buruh itu keburu diciduk polisi Belanda.

la dibuang ke Digul (selama sekitar setahun), sebelum dikirim ke Bandaneira dan diasingkan di sana selama sekitar enam tahun.

Juru runding bersekoci

Saat Indonesia merdeka, Sjahrir dan Amir Sjarifuddin dikenal sebagai tokoh nasional yang tegas menolak bekerja sama dengan Jepang.

Kekukuhan sikap itu menarik hati Bung Karno. Itu sebabnya Sjahrir kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Presiden Soekarno, yang ingin membuktikan dan memerlihatkan kepada dunia bahwa pemerintahan Indonesia bukan boneka atau buatan Jepang.

Hal ini diperlukan agar kemerdekaan itu mendapatkan pengakuan dan dukungan internasional.

Sjahrir sendiri beranggapan, personel dan persenjataan Belanda jauh lebih kuat daripada pejuang kita.

Makanya ia memilih jalan perundingan, agar Republik yang baru seumur jagung itu survive.

Halaman
1234
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved