Breaking News:

Kesaksian Rosihan Anwar di Malam Penculikan Para Jenderal, Istrinya Mengira Ada Maling

Banyak tokoh yang menulis tentang peristiwa itu, salah satunya mendiang wartawan Rosihan Anwar.

Warta Kota/Adhy Kelana
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. 

PARTAI Komunis Indonesia (PKI) menjadi momok bagi sebagian rakyat Indonesia. Setiap Bulan September, 'hantu komunis' seolah bangkit bergentayangan di negeri ini.

Ingatan akan peristiwa G30S pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 yang didalangi oleh PKI, meski masih menyimpan kontroversi, pun seolah tak pernah hilang dari kehidupan bangsa ini.

Banyak tokoh yang menulis tentang peristiwa itu, salah satunya mendiang wartawan Rosihan Anwar. Dalam buku bertajuk 'Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965' terbitan Sinar Harapan tahun 1980, Rosihan Anwar membagikan pengalamannya selaku saksi sejarah peristiwa yang dikenal sebagai Gestapu dan Gestok itu. Berikut ini kutipan dari buku tersebut:

Baca: Polisi Pelabuhan Tanjung Priok Bongkar Kasus Prostitusi Online, Rata-rata Tarifnya Rp 1,5 Juta

1 Oktober 1965

Dahsyat kedengarannya satu rentetan tembakan membelah kesunyian malam, sehingga membuat saya kaget terbangun. Istri saya pun terbangun dan kami pergi ke jendela kaca kamar tidur kami untuk melihat keluar ke arah jalan raya.

“Maling barangkali, kau tidak dengar ada teriakan tadi?” tanya istri saya.

Kamar tidur kami hanya kurang lebih 100 meter dari jalan yakni Jalan Teuku Umar. Kami tinggal persis di depan rumah Jenderal AH Nasution. Kami memandang dengan sekuat pandangan akan tetapi tidak tampak sosok tubuh manusia.

Karena keadaan masih diliputi gelap gulita. Pukul berapa ini? Pikir saya. Menjelang pukul tiga pagi. Tampak sebuah truk bergerak di muka rumah Nasution. Truk hilang dari pandangan. Untuk ke luar pergi ke beranda depan saya tidak berani. Maka berdirilah saja kami depan jendela kaca mengamati apa yang terjadi.

Buku Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965
Buku Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965 (ISTIMEWA)

Tidak lama kemudian sebuah mobil sedan yang menyalakan lampu besarnya meninggalkan pekarangan rumah Nasution dan menghilang. Apa itu? pikir saya tidak habis-habisnya baiknya tidur saja lagi.

Paginya setelah hari terang saya bersiap-siap hendak mengantarkan Naila ke sekolah di Pegangsaan Timur (SD Tri sula). Saya heran di pekarangan saya banyak prajurit sedang mengadakan stelling. Mereka merebahkan diri di atas rumput di belakang senapan mesin. Di Jalan Teuku Umar saya lihat ada kereta panser diparkir. Saya jalan ke depan dan menengok ke seberang ke rumah Dr Leimena.

Ada sosok tubuh terbaring di tanah ditutupi dengan kain putih. Prajurit-prajurit mondar-mandir di Jalan Teuku Umar. Saya belum tahu juga apa yang terjadi.

Saya antarkan Naila ke sekolah dan sekembalinya dari sana saya diberitahu oleh orang-orang di rumah mereka mendengar di RRI dalam siaran berita pukul tujuh pagi tentang adanya “Dewan Revolusi” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung. Keterangan lain tidak dapat mereka berikan dan saya juga bertanya-tanya apa ini semua?

Segera saya ambil sepeda dan saya menuju ke Jalan Tanjung 18 tempat Koko tinggal. Saya ceritakan padanya apa yang telah terjadi, tembakan di waktu malam, mayat yang terbujur di depan rumah Leimena, tentara yang berkumpul dan berjaga-jaga di Jalan Teuku Umar. (*)

Penulis: Yaspen Martinus
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved