PTIK Gelar Penelitian tentang Terorisme yang Melibatkan Perempuan

PTIK menggelar penelitian tentang terorisme yang melibatkan kaum perempuan, dengan mengundang sejumlah komponen masyarakat di Bekasi.

PTIK Gelar Penelitian tentang Terorisme yang Melibatkan Perempuan
Warta Kota/Muhammad Azzam
Ketua Tim Peneliti PTIK Kombes Jacobus Alexander Timisela.

PERGURUAN Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) melakukan penelitian terlibatnya perempuan dalam terorisme.

Penelitian yang melibatkan tokoh masyarakat, anggota TNI, Kejaksaan Negeri, Kepolisian, hingga sejumlah organisasi masyarakat (ormas) itu dilakukan di aula Polres Metro Bekasi Kota, Selasa (18/9/2018).

Dalam penelitian, mereka yang hadir diminta mengisi kuisioner berisikan tentang pandangan masyarakat terkait tindak terorisme dan keterlibatan perempuan dalam terorisme.

Selain itu, mereka yang hadir diminta untuk menyampaikan pendapat dan masukkannya soal terorisme di Indonesia.

Ketua Tim Peneliti PTIK, Kombes Jacobus Alexander Timisela mengatakan, rangkaian penelitian ini telah dilakukan sejak awal bulan September ini.

Peneliti dilakukan dibeberapa wilayah yakni Polda Jawa Barat, Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, Polda Riau.

"Kalau Polres, itu di Polres tertentu seperti Bekasi ini yang memang beberapa seringkali terjadi tindak teroris ataupun lokasi rumah terduga teroris itu," katanya kepada Wartawan Selasa (18/9/2018).

Ia mengatakan hasil penelitian ini akan di seminarkan pada tanggal 30 September 2018.

"Kegiatan penelitian maraton langsung di berbagai wilayah, sampe nanti kita angkat hasil penelitian ini di seminar tanggal 30 September. Hasil penelitian bisa menjadi bahan evaluasi dalam penanganan terorisme," jelasnya.

Untuk pemilihan tema penelitian, lanjut Timisela melihat fenomena yang berkembang.

"Banyakan teroris kan perempuan bukan sebagai kolabor lagi tapi juga action. Contohnya kasus di Surabaya, ini fenomena baru yang harus diteliti," ucapnya.

Ia menambahkan dari hasil penelitian sementara keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme dikarenakan ketaat istri kepada suami maupun doktrin mendapatkan surga dan kesejahteraan.

"Istri taat ke suatu yang hal yang baik, tapi tidak untuk radikal. Ini yang harus ditanamkan, pengetahuan soal terorisme suatu kejahatan ini harus ditanamkan," katanya.

Kemudian doktrin juga dapat mempengaruhi. "Doktrin biasalah menyangkut masalah keimanan yang bersifat mendasar, itu yang paling mudah. Itu masalah doktrinasi, cuci otak kan mudah atau cepet prosesnya kalau orang yang sakit hati," paparnya.

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved