Selasa, 12 Mei 2026

Kesehatan

Madu, Gula Pasir dan Pemanis Buatan Mana yang Lebih Baik untuk Diet?

Kalau sedang berdiet jika masih boleh makan manis lebih bagus mana ya menambahkan madu atau gula atau pemanis buatan. Simak di sini

Tayang:
Lifealth
Madu 

HAMPIR semua orang menganggap madu sebagai produk alami yang sehat sebagai alternatif gula putih.

Namun Anda perlu berhati-hati karena madu sesungguhnya tak sebaik yang Anda kira.

Tim nutrisi menulis dalam Journal of Nutrition menyebutkan bahwa madu memberikan pengaruh yang serupa bagi tubuh seperti halnya pemanis lain, misalnya gula putih dan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS) yang dipakai sebagai pemanis.

“Madu dianggap lebih alami ketimbang gula pasir dan sirup jagung tinggi fruktosa yang telah melalui serangkaian proses pembuatan. Kami mencoba mencari tahu perbedaannya, tapi secara kimiawi ternyata sama saja,” ungkap Susan Raatz selaku ketua peneliti seperti dikutip Kompas.com.

Dalam riset tersebut, para ilmuwan membandingkan efek dari madu, gula pasir dan sirup jagung tinggi fruktosa yang di uji pada 55 orang sukarelawan.

Mereka diminta untuk mengonsumsi salah satu dari ketiga pemanis tersebut sebanyak 50 gram per dosis selama 2 minggu. Hasilnya ternyata tidak berbeda jauh.

Di akhir masa penelitian semua partisipan memiliki efek yang sama. Kadar trigliserida (lemak darah) meningkat di semua partisipan, apa pun jenis pemanis yang diasup.

Madu memang digunakan sebagai pemanis altenatif gula karena mengandung vitamin B – yang tidak ada dalam kandungan gula putih.

Madu Manuka adalah jenis madu yang langka dan paling mahal dari Selandia Baru. Madu ini juga dianggap sebagai salah satu makanan super.

"Namun begitu, madu tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan dan jangan dijadikan makanan rutin," ungkap Sara Stanner selaku ahli nutrisi.

Stanner mengatakan, dalam 1 sendok madu terkandung 23 kalori dan 6g gula, sedangkan dalam 1 sendok gula pasir mengandung 16 kalori dan 4g gula.

Walau madu lebih manis, Anda harus tetap membatasi jumlahnya "Madu memang tidak berbahaya, namun perlu di ingat bahwa itu akan menambahkan kalori dalam pola makan," katanya.

Madu atau Gula, Mana Lebih Baik?

Madu dan gula sama-sama lazim digunakan sebagai peningkat rasa manis pada makanan dan minuman.

Gula diproduksi dari tebu setelah denaturisasi protein, nitrogen, asam organik, vitamin, dan enzim. Sedang madu diproduksi oleh kerja keras lebah madu.

Ilustrasi gula pasir
Ilustrasi gula pasir (Tribunnews.com)

Seperti dilansir dari amazine.co, satu sendok makan gula mengandung 46 kalori sedangkan satu sendok madu mengandung sekitar 64 kalori.

Jadi, ada lebih banyak kalori dalam madu daripada gula. Namun, jangan merasa panik terlebih dahulu.

Madu lebih manis dari gula.

Dengan demikian, Anda akan menambahkan madu lebih sedikit dari gula untuk mencapai rasa manis yang sama.

Selain itu, madu juga lebih mahal daripada gula.

Dengan demikian, orang cenderung akan ‘liberal’ dalam menggunakan gula.

Jadi, pada akhirnya, kita mengonsumsi lebih sedikit kalori dari madu dibandingkan dengan gula.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu dipahami dulu sebuah istilah yang disebut sebagai Glycemic Index (GI)?

GI merupakan metode untuk mengukur efek makanan kaya karbohidrat pada tingkat gula darah.

Makanan dengan GI rendah bisa dikaakan lebih sehat bagi tubuh. Madu memiliki GI 55, sedangkan GI gula sebesar 61.

Dengan demikian, madu lebih baik dari gula dan terbukti menjadi sumber energi yang lebih baik.

Berbicara tentang energi, gula mengandung sukrosa 100% sedangkan madu terdiri dari hanya 1,5% sukrosa.

Sisa kandungan madu merupakan fruktosa dan glukosa yang merupakan jenis monosakarida.

Monosakarida atau gula sederhana dapat memasuki aliran darah secara langsung.

Monosakarida tidak perlu dimetabolisme menjadi gula sederhana sehingga mampu menjadi sumber energi instan dan nutrisi untuk tubuh.

Berbicara tentang nutrisi, gula tidak mengandung mineral, vitamin atau protein. Di sisi lain, madu adalah produk alami yang dibuat oleh lebah madu yang kaya akan nutrisi.

Madu mengandung kalsium, besi, fosfor, kalium, mangan, magnesium, vitamin B6, riboflavin, niasin, asam pathothenic, triptofan, treonin, lisin, tirosin, arginin, asam aspartat, asam glutamat, serin, serta berbagai vitamin, mineral, dan asam amino .

Jadi, meski kalori dalam madu lebih tinggi dari gula, pada kenyataannya madu bisa dianggap lebih baik dari gula.

Madu juga mengandung beragam nutrisi yang tidak terdapat pada gula.

Meskipun demikian, Anda tidak boleh mengkonsumsi madu secara berlebihan karena dapat memicu kenaikan berat badan sekaligus peningkatan kandungan gula dalam darah.

Jika dikonsumsi dalam jumlah moderat (satu atau dua sendok makan sehari), madu baik untuk menjaga tingkat kesehatan Anda.

Bagaimana dengan Pemanis Buatan? 

Lalu apa itu pemanis buatan? Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemanis buatan adalah jenis pemanis yang bahan bakunya tidak dapat ditemukan di alam dan dihasilkan melalui proses kimiawi.

Contoh dari pemanis buatan adalah aspartam, siklamat, sukrolosa, dan sakarin.

Jenis pemanis buatan ini biasa digunakan pada makanan olahan seperti sirup, soda, selai, hingga makanan khusus yang ditujukan bagi penderita diabetes atau makanan khusus diet.

Pemanis buatan
Pemanis buatan (istimewa)

Jika Anda melihat suatu produk memiliki label sugar free, cobalah cek komposisinya. Biasanya ada tambahan pemanis buatan di dalamnya.

Pemanis buatan sudah diatur batas penggunaannya oleh BPOM. Contohnya aspartam, batas konsumsinya per hari adalah 40 mg/kg. Artinya jika berat badan Anda 60 kg, maka batas konsumsi aspartam Anda dalam sehari adalah 2400 mg.

Sebagai perbandingan, satu kaleng soda diet mengandung kadar aspartam sekitar 180 mg. Dengan begitu dalam sehari Anda diperbolehkan mengonsumsi kurang lebih 13 kaleng soda diet.

Pada pemanis buatan, mayoritas tidak memiliki kalori. Atau kalau pun mengandung kalori, jumlahnya sangat sedikit. Jenis pemanis buatan yang mengandung kalori adalah golongan pemanis yang berasal dari alkohol seperti manitol, sorbitol, dan xylitol.

Dengan jumlah kalori yang sedikit bahkan hampir tidak ada, pemanis buatan sering digunakan dalam produk yang dikhususkan bagi mereka yang sedang diet.

Sebagai perbandingan, jika berat badan Anda kurang lebih 55 kg dan Anda menyeduh kopi menggunakan dua sachet pemanis buatan, maka Anda bisa mengonsumsi sekitar 116 gelas kopi untuk mencapai batas maksimum konsumsi pemanis buatan dalam sehari.

Hal ini disebabkan oleh tingkat kemanisan pemanis buatan yang jauh lebih tinggi dari gula biasa. Aspartam misalnya, tingkat kemanisannya 200 kali lipat jika dibandingkan dengan sukrosa atau gula pasir.

Bandingkan berapa banyak kalori yang Anda konsumsi jika Anda menyeduh 116 gelas kopi menggunakan gula pasir.

Penggunaan pemanis buatan jelas bisa memotong jumlah asupan kalori Anda yang berasal dari gula.

Selain itu pemanis buatan cenderung tidak meningkatkan kadar gula darah, karena memang bukan termasuk karbohidrat. Berbeda dengan gula pasir yang termasuk golongan karbohidrat dan dapat memicu kerja insulin ketika dikonsumsi. Maka pemanis buatan sering pula ditemukan dalam produk khusus bagi penderita diabetes.

Kekurangan pemanis buatan

Namun pemanis buatan tidak selalu mendapat respon positif. Sekitar tahun 1970, dilakukan penelitian terkait sakarin dan kanker.

Setelah diujicobakan ke tikus, ditemukan bahwa tikus yang diberi sakarin dalam dosis tinggi menderita kanker kandung kemih.

Penelitian lain di tahun 2005, seperti dikutip dari CNN, menyebutkan bahwa tikus yang diberi aspartam dosis tinggi (kurang lebih setara dengan mengonsumsi 2000 kaleng soda diet) memiliki risiko tinggi menderita leukimia.

Namun keseluruhan penelitian terkait pemanis buatan ini masih belum diketahui apakah memberi pengaruh yang sama pada manusia.

Tidak hanya dikaitkan dengan kanker, pemanis buatan juga dikaitkan dengan kenaikan berat badan. Meskipun memiliki jumlah kalori yang sangat sedikit, penggunaan pemanis buatan yang terus menerus akan membuat indra pengecapan kita menjadi “kebal” dengan rasa manis.

Anda mungkin akan kehilangan nafsu untuk makanan seperti sayur dan buah yang sebenarnya sehat tetapi tidak terlalu manis.

Selain itu, karena Anda sudah merasa makan lebih sedikit dengan menggunakan pemanis tanpa kalori pada kopi Anda, setelah itu Anda akan memberi reward pada diri Anda dengan memakan sepotong kue atau donat.

Tubuh Anda merasa belum mendapatkan gula yang sesungguhnya sehingga Anda lalu mencari gula dari makanan lain.

Dan seperti dikutip dari Harvard Health Publication, dr.Ludwig, seorang profesor di bidang kesehatan anak menyatakan bahwa ada kemungkinan pemanis buatan menstimulasi pembentukan sel lemak yang baru sehingga dapat memicu kenaikan berat badan.

(berbagai sumber) 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved