Penghujung Agustus 2018, Rupiah Terus Melemah Capai Rp 14.800 per USD

Perayaan Hari Kemerdekaan telah berlalu, target perolehan medali emas Asian Games 2018 pun tercapai.

Penghujung Agustus 2018, Rupiah Terus Melemah Capai Rp 14.800 per USD
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Karyawan jasa penukaran uang asing menunjukkan dolar Amerika di Masayu Agung, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah ke Rp14.457 per dolar AS. 

PERAYAAN Hari Kemerdekaan telah berlalu, target perolehan medali emas Asian Games 2018 pun tercapai.

Namun, tantangan yang harus dihadapi sebenarnya adalah terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.

Hingga pagi ini, Jumat (31/8/2018); nilai tukar rupiah terhadap dolar atau kurs kembali menurun, yakni dari sebelumnya sebesar Rp 14.734 per USD pada Kamis (30/8/2018) naik menjadi Rp 14.800 per USD pada pukul 07.00 WIB.

Penurunan kurs rupiah terhadap dolar itu disesalkan seluruh pihak. Salah satunya adalah Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera.

Lewat status twitternya @MardaniAliSera, dirinya menyesalkan keadaan.

"Rupiah kita terus melemah," tulis Mardani diakhiri tagar #2019GantiPresiden. (https://t.co/BOKoH3IRSr)

Pakar ekonomi sekaligus mantan Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Rizal Ramli berpendapat serupa.

Dirinya menyesalkan pelemahan rupiah sekarang yang berbeda dengan kondisi ketika krisis moneter terjadi pada tahun 1998.

Kala krisis moneter pada era reformasi terjadi, Indonesia katanya memiliki cadangan sumber daya alam melimpah. Sehingga utang yang menggunung dapat diselesaikan dengan ekspor sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, karet, coklat hingga kopra.

Kondisi tersebut berbeda dengan hari ini, Indonesia katanya tidak memiliki tabungan untuk menghindar dari tekanan dolar.

Bukan hanya tidak memiliki komoditas ekspor, minyak yang menjadi penolong ketika krisis moneter 1998 terjadi justru kini diimpor saat ini.

"Ketika krisis 1998, RI miliki tabungan: net eksportir oil 1,3 juta brl/hari, kapasitas berlebih sawit, karet, coklat, kopra. Ketika rupiah anjlok Rp15.000/$, eksportir happy. Hari ini kita tidak punya tabungan: Net impotir oil 1,1 juta brl/hr & no excess capacity. Perlu inovatif," tulis Rizal Ramli. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved