Ratusan Ton Ikan Mati di Danau Toba karena Masalah Ini

Kasus kematian massal ikan dialami oleh sekitar 18 kepala keluarga dengan jumlah ikan mati mencapai 180 ton.

dok. Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Tanpa sebab, ratusan ton ikan mati mendadak di danau Toba, tepatnya di Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir pada Selasa (28/8/2018). 

MENINDAKLANJUTI kasus kematian massal ikan di danau Toba, tepatnya di Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir pada Selasa (28/8/2018), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerjunkan Tim Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan.

Tim Satgas yang diwakili para ahli perikanan budidaya pada Balai Perikanan Budidaya Ait Tawar (BPBAT) Jambi dan Balai Karantina Ikan Medan ini bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak atas kematian massal ikan, sekaligus memberikan arahan guna menentukan langkah-langkah yang dapat diambil.

Sebelumnya, kasus kematian massal ikan dialami oleh sekitar 18 kepala keluarga dengan jumlah ikan mati diperkirakan mencapai 180 ton.

Kematian ikan menyebabkan kerugian hingga Rp. 2,7 milyar dengan asumsi harga ikan Rp 15.000 per kilogram.

Tanpa sebab, ratusan ton ikan mati mendadak di danau Toba, tepatnya di Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir pada Selasa (28/8/2018).
Tanpa sebab, ratusan ton ikan mati mendadak di danau Toba, tepatnya di Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir pada Selasa (28/8/2018). (dok. Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia)

Anggota Tim Satgas, Ahmad Jauhari dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa hasil monitoring kualitas perairan dan investigasi di lapangan setidaknya ada tiga dugaan sementara penyebab kematian massal ikan tersebut.

Penyebab pertama adalah terjadinya penurunan suplai oksigen bagi ikan, kepadatan ikan dalam KJA yang terlalu tinggi, dan lokasi KJA terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan lumpur.

Menurutnya, turunnya suplai oksigen disebabkan oleh terjadinya upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca yang cukup ekstrim dan berakibat adanya perbedaan suhu yang mencolok antara air permukaan dan suhu air dibawahnya, sehingga unsur hara yang berada di dasar danau naik ke atas.

"Cuaca ekstrim telah memicu upwelling. Jadi, pergerakan massa air secara vertical ini membawa nutrient dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang," jelasnya dalam siaran tertulis pada Rabu (29/8/2018).

"Apalagi lokasi KJA cukup dangkal dan sustratnya berumpur. Disamping itu, jika kami lihat, ternyata kepadatan ikan dalam KJA juga terlalu tinggi, sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen”, tambahnya.

Tim Satgas juga merekomendasikan agar untuk sementara waktu aktivitas KJA dihentikan terlebih dahulu sekitar dua bulan, agar perairan bisa kembali murni seperti semula.

“Ya paling tidak dua bulan ke depan, kami imbau masyarakat menghentikan sementara waktu aktivitas budidayanya, hingga perairan kembali stabil,” tuturnya

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved