Pegawai Dipecat Karena Curang Demi Menjaga Kepercayaan Itu Jauh Lebih Sulit

Terkait pelanggaran yang dilakukan pegawai Tokopedia dituangkan William Tanuwijaya lewat akun Instagramnya.

Pegawai Dipecat Karena Curang Demi Menjaga Kepercayaan Itu Jauh Lebih Sulit
Tokopedia
Ilustrasi 

PERASAAN kekecewaan terkait pelanggaran yang dilakukan pegawai Tokopedia dituangkan William Tanuwijaya lewat akun Instagramnya @liamtanu. CEO Tokopedia itu menyebut menjaga kepercayaan sangat penting.

"Membangun kepercayaan itu sulit, menjaga kepercayaan itu jauh lebih sulit. Untuk organisasi sebesar Tokopedia sekarang, menjaga kepercayaan harus dilakukan bersama-sama oleh setiap elemen di dalam @tokopedia, tanpa terkecuali, setiap detiknya, lewat aksi nyata," tulisnya pada Rabu (29/8/2018).
(https://www.instagram.com/p/BnAtl34jcmM/?utm_source=ig_web_copy_link)
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Dalam menjaga kepercayaan, secara rutin pihaknya melakukan internal audit, dan hasil audit terakhir pihaknya menemukan beberapa pelanggaran yang berhubungan dengan kegagalan menjaga standard integritas Tokopedia.

"Rasanya sangat terpukul dan kecewa ketika mendapati ada beberapa anggota team yang melakukan pelanggaran sebanyak total 49 buah produk dari kampanye promosi Tokopedia. Memang jumlah nya kecil sekali dibanding puluhan juta produk yang terjual setiap bulannya, namun bagi kami ini bukan persoalan seberapa kecil pelanggarannya," jelasnya.

Untuk pelanggaran sekecil apapun, pelanggaran tersebut menurutnya adalah masalah kegagalan integritas dalam menjaga titipan kepercayaan yang diberikan kepada Tokopedia. Maka tanggal 24 Agustus kemarin, Tokopedia telah dengan tegas memberhentikan seluruh anggota tim yang terbukti terlibat.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Menjadi pemimpin, dalam menghadapi masalah, kita sering menghadapi pilihan, untuk mengabaikan kejadian yang buruk, menutup mata, melakukan hal yang dirasa baik untuk jangka pendek, atau melakukan hal yang paling sulit, namun benar untuk jangka panjang. Bagi saya, menjadi pemimpin bukanlah tentang popularitas," ungkapnya.

"Menjadi pemimpin adalah tentang mengambil keputusan yang memang benar, seberapapun sulitnya itu. Hanya lewat itulah, maka nilai-nilai yang kita percaya, dapat terus kita jaga. Hanya lewat itulah, kepercayaan dapat terus dijaga," tambahnya.

Karena menurutnya, dalam mewujudkan mimpi harus dilakukan dengan konsisten, lewat pikiran, ucapan dan tindakan yang jujur. "Karena bagi saya dalam bermimpi itu, harus bermimpi dengan mata terbuka. Apa yang kamu impikan, kamu pikirkan, kamu ucapkan, dan kamu lakukan, harus konsisten," tutupnya.

Sementara itu, Ignatius Untung selaku Ketua Umum Idea menjelaskan bahwa bahwa internal fraud merupakan risiko tidak terhindarkan bagi perusahaan manapun.

“Kecurangan oleh oknum internal yang tidak bertanggung jawab lumrah terjadi dari waktu ke waktu, baik di bisnis online maupun offline, bahkan di industri-industri yang regulasinya secara ketat. Untuk kasus Tokopedia, analoginya ada toko offline sedang menggelar program diskon. Dari satu juta produk yang didiskon, 49 buah dibeli oleh orang dalam dengan cara yang tidak benar. Nah, perusahaan tersebut lalu mengambil tindakan tegas,” papar Untung dalam siaran tertulis pada Rabu (29/8/2018).

Selanjutnya, Untung mengakui bahwa sikap perusahaan terhadap internal fraud memang berbeda-beda. Banyak perusahaan katanya memilih diam ketika menemukan adanya kasus yang dialami Tokopedia.

"Dalam hal ini, saya lihat tindakan tegas Tokopedia justru bagus. Pastinya ini pilihan yang sulit, apalagi sebenarnya dari jumlah barangnya kecil sekali. Tokopedia bisa saja memilih diam supaya tidak menimbulkan pemberitaan. Ini justru membuktikan komitmen mereka untuk melindungi kepentingan konsumen, sekaligus menjaga kepercayaan dari masyarakat.

Ini bukan pertama kalinya kasus fraud di startup menarik perhatian publik. Sebelumnya, masyarakat sempat heboh dengan pemberitaan mengenai Grab yang melaporkan karyawan yang melakukan internal fraud hingga Rp 1 Milyar, penangkapan order fiktif driver GO-JEK, atau kasus pesanan IPhone di Lazada yang ditukar dengan sabun.

“Lewat teknologi, justru masalah-masalah tersebut bisa lebih mudah terungkap dan dikelola dengan baik. Yang juga penting, harusnya kejadian ini memberikan efek jera bagi oknum tidak bertanggung jawab, bukan malah perusahaan yang terkait. Jangan sampai ketika nanti ada kejadian serupa, pelaku startup jadi malah enggan melaporkan," katanya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved