Breaking News:

Heru Mulyadi, Sajikan Seni Rupa Film Dalam Rupa Yang Tak Biasa

Heru Mulyadi menyimpan berbagai karya fisik seni rupa film (Kostum dan Properti)_ kemudian menjadi koleksi rumah kreasi Gardu Seni, yang didirikannya

WARTA KOTA, PALMERAH  ----- Ribuan orang menyimak sajak-sajak Heru Mulyadi, yang dibacakan di acara “Pameran Seni Rupa Film Indonesia -- Dalam Rupa yang Tak Biasa,” yang digelar dalam rangka memperingati Hut Ke 73 RI, di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (19/8/2018).

20180825 Heru Mulyadi
Pameran Seni Rupa Film Indonesia Dalam Rupa Yang Tak Biasa (ist)

Selama bertahun-tahun secara dedikatif, Heru Mulyadi menyimpan berbagai karya fisik seni rupa film (Kostum dan Properti)_ kemudian menjadi koleksi rumah kreasi Gardu Seni, yang didirikannya. Hingga kini koleksi karyanya masih dimanfaatkan untuk mendukung sejumlah produksi film, sinetron, dan berbagai acara variety show di hampir semua stasiun televisi.

Ribuan warga, khususnya warga RW 03, Kelurahan Makasar Jakarta Timur, digerakkan Heru Mulyadi untuk merealisasikan gagasannya, mengarak bendera sang saka merah putih sepanjang 1000 meter lebih. Melibatkan tak kurang dari 1000 pemuda penggiat budaya berpawai mengenakan berbagai kostum para pahlawan bangsa, yang mendapat sambutan antusias dari seluruh warga.  

20180825 Heru Mulyadi
Heru Mulyadi (ist)

Ribuan warga berjejer sepanjang jalan menanti arak-arakan ribuan warga yang tampil tidak biasa dengan berbagai kostum dan aksesoris sesuai karakternya. Ada pasukan tentara Belanda, pasukan tentara Jepang, pasukan tentara Rakyat, prajurit Keraton Yogyakarta, busana Nusantara (dari Sabang sampai Merauke), serta kostum dan property lain, yang pernah digunakan dalam sejumlah produksi film Indonesia.

Acara ini melibatkan para seniman, budayawan, artis film dan sinetron, tokoh masyarakat, serta para pejabat terkait, antara lain Lurah dan Camat Kelurahan Makasar Jakarta Timur.

20180825 Heru Mulyadi
Pameran Seni Rupa Film Indonesia Dalam Rupa Yang Tak Biasa (ist)

Yati Surachman, salah satu artis yang ikut mendukung acara ini, mengatakan, Heru Mulyadi termasuk seniman dedikatif menekuni bidangnya. Film kata Yati, adalah karya kolektif. Salah satu unsurnya ada artistik; tata busana, tata rias, dan properti_. Tiga unsur ini membentuk ruang dan waktu yang memperkuat visual; gambar._

“Dia layak mendapatkan apresiasi, karena sudah lebih dari seperempat abad dia berkiprah secara konsisten di bidangnya, kiranya sudah selayaknya kita perlu memberinya sebuah apresiasi kepadanya”, kata aktris senior, Yati Surachman.

20180825 Heru Mulyadi
Heru Mulyadi (ist)

Kostum dan properti film yang diperagakan di acara “Pameran Seni Rupa Film Indonesia -- Dalam Rupa yang Tak Biasa” ini, merupakan karya Heru Mulyadi.  Kostum-kostum tersebut pernah digunakan dalam produksi film, antara lain, di film _Kereta Api Terakhir, Roro Mendut, Jaka Sembung, Merebut Angan, Secangkir Kopi Pahit_, sinetron _Badai Pasti Berlalu, Sirkuit Kemelut, Borobudur, Ronggo Warsito, Lorong Waktu, Ali Topan, Zorro, Pedang Keadilan, Bende Mataram, Lucu Braja Sang Pendekar, Mahapatih Gajahmada_, dan karya film lainnya.

Seni film, kata Heru, memerlukan banyak medium untuk menjelaskan kepada masyarakat terhadap apa yang dibayangkannya sebagai sebuah peristiwa. Bahkan untuk membangun imaji sebuah pengalaman yang seolah-olah _real time._

20180825 Heru Mulyadi
Heru Mulyadi (ist)

“Maka inilah seni rupa film yang kita hadirkan dalam rupa yang tidak biasa. Karya sastra atau keberaksaraan ini diberi sentuhan seni rupa. Selanjutnya melibatkan warga masyarakat menjadi bagian dari upacara dan menjadi momen kebenaran yang nyata pada hari ini,” ujar guru kehidupan alumni Fakultas Pendidikan & Pengembangan Ilmu Sosial _Universitas Nusa Cendana Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT)_ tahun 1978 ini.

Jika lazimnya perayaan akbar dilaksanakan di tempat yang dipandang _representatif_, Heru Mulyadi, justru memilih lingkungan padat penduduk untuk menggelar repertoar seni ini. Heru beralasan ingin lebih dekat dengan masyarakat di sekitaran rumah tinggalnya yang selama ini banyak memberi inspirasi dan melahirkan berbagai karya _in-convensional._

20180825 Heru Mulyadi
Heru Mulyadi (ist)

Bagi seniman kelahiran Yogyakarta, 29 Oktober 1958 ini, lingkungan dan masyarakat adalah denyut nadi pemberi energi kehidupan yang tak dapat dipisahkan. “Saya ingin karya-karya saya bisa bersentuhan langsung dan memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” harapnya.

Penulis:
Editor: M Nur Ichsan Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved