Tulus Sibuk Pakaikan Kalung untuk Deteksi Gajah

PENYANYI Tulus (30) dan satwa langka Gajah, memang tidak bisa terpisahkan selama ini.

Tulus Sibuk Pakaikan Kalung untuk Deteksi Gajah
Warta Kota/Nur Ichsan
Tulus 

PENYANYI Tulus (30) dan satwa langka Gajah, memang tidak bisa terpisahkan selama ini.

Mengingat Tulus pernah membuat sebuah karya single album yang bertajuk 'Gajah' beberapa tahun lalu, dan rupanya mendapat apresiasi positif dari industri musik tanah air.

Kecintaannya terhadap gajah, membuat Tulus terlibat dalam sebuah komunitas yang bergerak untuk peduli terhadap satwa yang populasinya sudah semakin sedikit setiap bulan hingga tahunnya.

Tulus menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu, ia mengunjungi Taman Nasional Tesso Nilo, Riau untuk menjumpai Gajah Sumatera yang berada di sebuah hutan bekas lahan pertanian.

"Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ketemu gajah. Kalau untuk kali kedua ini, ini beda karakternya dengan yang di Taman Nasional Bukit Barisan selatan, karena Tesso Nilo sendiri adalah hutan yang sebagiannya sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian. Tapi kalau karakter gajahnya sangat menyenangkan, hangat dan pintar sekali," kata Tulus ketika ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018).

Gajah yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo itu dijelaskan oleh Tulus, membantu untuk menanamkan bibit-bibit di hutan tersebut.

"Kan bibit ada yang bisa diterbangkan lewat angin dan ada yang bisa diterbangkan oleh hewan-hewan dengan besar tubuh yang lebih kecil. Ada juga yang hanya gajah, yang bisa membawa bibit itu," ucapnya.

"Kalau spesifiknya saya enggak inget, tapi ada banyak tanaman besar yang bibitnya itu paking efektif dibawa sama gajah, dan gajah itu makan dan pembuangannya itu untuk pupuk, dan itu akan menyebar dimana-mnana," tambahnya.

Karena memang memberikan dampak positif pada ekosistem hutan, pemilik nama lengkap Muhammad Tulus itu menginginkan Gajah disebarluaskan keberadaannya, dalam hutan-hutan Indonesia.

Terlebih saat ini, ia bersama dengan beberapa komunitas Gajah sedang memberikan atau memasangkan kalung kepada Gajah liar, yang berada di beberapa hutan sebagai pendeteksi keberadaan Gajah.

"Kalau tahun ini kita bisa dapat 5/6 kalung lagi dan mungkin ke depannya bisa lebih banyak lagi, karena satu unit kalung itu harganya mahal sekali. Pada saat ini belum ada diproduksi di Indonesia, jadi pengadaannya sangat sulit. Satu unitnya sekitar Rp. 40 juta," jelasnya.

Lanjut Tulus, Kalung pendeteksi lokasi ini adalah kalung yang dipasangkan ke pemimpin gajah liar, mengingat Gajah selalu bergerombol. Kemudian, kalung itu dipasangkan, nanti datanya itu secara frekuentif dikirim ke pusat pengumpulan data dan dilihat langsung oleh para expert yang bermuk juga di hutan.

"Yang diawasi adalah pola pergerakan gajah, jangan sampe gajah ini mendekati ke kawasan konflik, yang membahayakan untuk dia. Kalau nanti dia mendekati, kalung itu bisa digunakan untuk menghalau biar dia kembali ke area yang lebih aman. Kontribusi saya sampai ke pengadaan kalung itu," ujar Tulus.

Penulis: Arie Puji Waluyo
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved