Rocky Gerung Sebut Jokowi Tak Berintegritas Lewat Perumpamaan Peragawati Usai Tak Pilih Mahfud MD

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memilih Kiai Haji Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya untuk Pilpres 2019.

Rocky Gerung Sebut Jokowi Tak Berintegritas Lewat Perumpamaan Peragawati Usai Tak Pilih Mahfud MD
tangkapan layar youtube ROCKY GERUNG
Rocky Gerung 

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memilih Kiai Haji Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya untuk Pilpres 2019.

Akademisi Rocky Gerung membahas panjang lebar soal itu dengan berbagai perumpamaan yang membuat semuanya jadi cukup terang benderang.

Rocky Gerung mengungkapkan kisah Jokowi, Ma’ruf Amin, dan Mahfud MD itu selama 9 menit dalam acara Indonesia Lawyers Club yang diunggah di akun youtube Indonsia Lawyers Club tvOne dengan judul ‘Rocky Gerung : Gagalnya Mahfud MD Jadi Cawapres Merupakan Pameran Imoral Kepada Publik.’

Inilah ucapan lengkap Rocky Gerung yang ditranskrip dari penjelasannya dalam ILC :

Pilihlah dengan prinsip, dan itu yang nggak akan dipilih. Karena yang dipertontonkan bukan prinsip, tetapi pengkhianatan dan pengkhianatan.

Tadi Pak Karni mengutip Lenin, dan itu menyiapkan kita pada politik kremlin, dan ada istilah kremlinnologi, yaitu kasak kusuk di dalam istana, yang pada akhirnya isinya adalah persekongkolan. 

Jadi emang benar kita mendengarkan uraian Pak Mahfud tadi seperti menggambarkan kremlinnologi di depan monas. Di dalam istana negara. Karena ini soal, tadi saudara Nusron mengatakan bahwa ini adalah pilihan moral, justru itu yang imoral. Itu adalah delik moral, mempermalukan seorang warga negara diujung pesta.

Apa kurang bermoralnya, apa kurang tidak bermoralnya itu? Tentu  Pak Mahfud dengan tegar mengatakan bahwa. Prof mahfud dengan tegar mengatakan, dia tidak tersinggung, dia tidak kecewa.

Pertanyaan saya, boleh nggak dia ungkapkan sebaliknya di depan publik? Saya kecewa, saya segala macem, nggak mungkin diucapkan. Karena itu pilihan terakhir dari sang korban adalah mengatakan dia tidak tersinggung, walaupun itu adalah suatu kejadian eksistensial, terhina di depan publik. Tapi orangnya tidak tersinggung.

Yang tersinggung adalah moralitas publik, karena akan dicatat dalam sejarah ada semacam dengan saya mau sebut dengan salah satu istilah yang agak berbahaya. Oke, saya cari cara untuk  menyebut. Memang saya nggak akan menyebut itu.

Halaman
123
Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved