Banyak Caleg Gagal Nyalon, Bukti Parpol Tidak Siap Pemilu

Sementara tanggung jawab politik itu harus memenuhi berbagai aturan dan persyaratan," kata Ray Rangkuti

Banyak Caleg Gagal Nyalon, Bukti Parpol Tidak Siap Pemilu
TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
Ray Rangkuti 

 Banyaknya bakal calon legislatif (bacaleg) yang dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS) oleh KPU dinilai sebagai bukti bahwa partai politik (parpol) tidak siap menghadapi Pemilu 2019.

Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai, parpol seharusnya memiliki tanggung jawab untuk mengajukan bacaleg-bacaleg berkualitas dalam kontestasi Pileg mendatang.

"Parpol sebetulnya memiliki tanggungjawab secara moral dan politik. Moral artinya mencalonkan orang yang tidak memiliki indikasi pernah terlibat kasus. Sementara tanggung jawab politik itu harus memenuhi berbagai aturan dan persyaratan," kata Ray Rangkuti

Seperti diketahui, KPU telah mengumumkan rekapitulasi penetapan daftar calon sementara (DCS) DPR RI untuk pemilu 2019. Dari 16 parpol peserta pemilu, hanya 3 partai yang memiliki bacaleg di DPR RI yang 100 persen memenuhi syarat (MS). Yakni PKB, NasDem, dan PBB. Lainnya sangat bervariasi.

Partai Berkarya merupakan salah satu parpol yang memiliki bacaleg terbanyak yang dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS). Dari total 575 bacaleg yang diajukan, 142 diantara TMS. Akibatnya, dari 80 dapil yang diajukan, KPU menggugurkan 14 dapil.

Dikatakan Ray sebaiknya partai-partai lebih serius untuk menyiapkan segalanya agar memenuhi aturan dan persyaratan yang ada. Baik secara administratif maupun kader-kadernya. 

Terlebih, kata dia, Berkarya merupakan parpol baru. "Seharusnya mereka lakukan persiapan jauh-jauh sebelum Pemilu dimulai. Minimal dua tahun," imbuhnya.

Menurutnya, tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap keberadaan partai politik menjadi salah satu penyebab sulitnya menghadirkan bacaleg yang berkualitas. Belum lagi, soal hitung-hitungan sebuah parpol untuk menembus angka ambang batas masuk parlemen atau parliamentary threshold (PT), khususnya bagi partai baru.

"Jadi, kalau orang melihat partai akan kesulitan menang karena ada PT, untuk apa mereka menjadi caleg. Itu salah satu kesulitan," ungkapnya. Dikatakannya, keberadaan ambang batas tersebut secara tidak langsung membuyarkan keinginan masyarakat untuk terjun ke politik. 

Kecuali, jika parpol bisa membangun citra positif sesuai keinginan masyarakat, yakni mengubah kultur politik menjadi lebih baik. "Cari kader mumpuni sudah tidak relevan lagi. Karena, jangan cari yang mumpuni, cari yang mau saja susah," tutur Ray.

Halaman
12
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved