Breaking News:

Darurat Peternakan Ayam Dinilai Sangat Memrihatinkan Dampak Kian Merosotnya Rupiah

Semakin terdepresiasi rupiah, para peternak ayam, baik broiler maupun layer, tercekik karena harga pakan yang terus naik.

Editor: Gede Moenanto
Warta Kota/Adhy Kelana
Ilustrasi. Pedagang telur di pasar Lapangan Tembak Cibubur Jakarta Timur, saat melayani pembeli, Selasa (17/7/2018). Lonjakan harga telur merupakan fakta darurat peternakan ayam. 

Jatuhnya nilai tukar rupiah yang sudah mencapai kisaran Rp 14.500 per dolar AS, secara signifikan menyebabkan naiknya harga pakan ayam.

“Semakin terdepresiasi rupiah, para peternak ayam, baik broiler maupun layer, tercekik karena harga pakan yang terus naik,” ujar Fadli Zon, Ketua Umum DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Seperti diketahui, lanjut Fadli, sebagian bahan pakan ternak berasal dari luar negeri atau impor, sehingga harganya sangat tergantung pada nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, harga jagung untuk pakan juga merangkak naik, sudah mencapai Rp 4.200 pada akhir Juli ini.

Tak hanya itu, harga DOC (day old chicken) juga naik, padahal ketersediaannya juga tidak memadai.

“Prihatin dan sedih, para peternak ayam tidak dapat menutup biaya produksi dan makin merugi,” kata Fadli.

Kenaikan harga daging ayam dan telur, dalam kajian HKTI, tidak dirasakan oleh peternak ayam.

Harga kandang (farm gate), yang naik sedikit tidak sebanding dengan kenaikan harga pakan.

Sedang harga di tingkat konsumen lebih dibentuk oleh mata rantai distribusi, bukan produksi.

"Kenaikan harga dinikmati pedagang ketimbang peternak. Masalah harga lebih pada distribusi dan tata niaga daripada produksi,” kata Wakil Ketua DPR ini.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved