TGB: Tak Relevan Bicara 2019 Kalau Keadaan Kita Seperti Suriah dan Afganistan

“Yang tidak boleh adalah menggunakan sentimen keagamaan untuk hal-hal yang destruktif, menganggap kelompoknya lah yang paling islami."

TGB: Tak Relevan Bicara 2019 Kalau Keadaan Kita Seperti Suriah dan Afganistan
Kompas.com/Fitri
TGB bersama Imam besar Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani Bagdad Iraq, Dr Anas Mahmud Kholaf (gamis krem) memberi keterangan pers usai membuka Konferensi Internasional Alumni Al Azhar di Mataram, Lombok, Jumat (27/7/2018). 

GUBERNUR Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, Jumat (27/7/2018), menegaskan bahwa ulama bisa berpolitik, harus bersuara, tidak boleh diam apapun risikonya.

“Karena kalau diam ketika ada sentimen keagamaan yang digunakan oleh orang yang tidak bertangung jawab, maka risikonya terlalu besar untuk bangsa kita. Kita semua harus bersuara,” katanya seusai membuka Konferensi Internasional Moderasi Islam di Masjid Habbul Wathan Islamic Center, Kota Mataram.

Dia mengingatkan bahwa beberapa bulan lalu sempat menyampaikan agar ayat-ayat perang dalam konteks kehidupan politik di Indonesia tidak digunakan. Hal itu adalah bagian dari upayanya bersuara.

“Dan, saya mempertanggungjawabkan itu. Saya ajak kita semua bersuara. Pasti ada risikonya. Semacam dalam situasi sekarang banyak bully dari mana-mana. Tapi kalau kita tidak suarakan, hal itu-jangan jangan kita akan sampai pada suatu keadaan saat kita menyuarakan sudah tidak ada artinya," paparnya.

Menurut dia, tokoh agama harus bersuara dan menyebarkan nilai-nilai kasih sayang dan kedamaian. Perbedaan yang ada bukan menjadi penyebab saling membenci, apalagi menafikkan orang atau kelompok tertentu.

Tak terkait Pilpres 2019

TGB menegaskan, apa yang disuarakannya tidak terkait dengan Pilpres 2019. Ia meminta setiap pernyataannya tidak dikerucutkan hanya urusan Pilpres.

“Ndak ada kaitannya dengan pilpres. Jadi suara-suara yang baik jangan lagi direduksi hanya urusan (Pilpres) 2019. Ini urusan bangsa ke depan, tidak relevan bicara 2019 kalau keadaan kita sudah seperti Suriah dan Afganistan, mau bicara apa kalau keadaan kita tak bisa diperbaiki," ujar gubernur dua priode ini.

TGB juga menekankan bahwa agama tidak harus dipisahkan dari politik. Agama itu wajib ada dalam politik. Menurutnya, nilai spiritual dan nilai kemanusiaan seperti keadilan, bermusyawarah, membangun kesetaraan, kemudian menghadirkan kesejahteraan ada dalam agama.

“Yang tidak boleh adalah menggunakan sentimen keagamaan untuk hal-hal yang bisa membawa pada sesuatu yang destruktif, menganggap bahwa kelompoknya lah yang paling islami. Kalau sudah ada labelisasi seperti itu pasti akan membawa situasi yang tidak baik. Paling ekstremnya seperti apa yang menimpa negara-negara lain,” ulas TGB.

Halaman
12
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved