Cicipi Nasi Hitam Berbahan Kluwek yang Sederhana dan Enak

Mengajak Anda untuk mengolah sekaligus mencicipi sego ireng dan juga salah satu kuliner dari Pontianak.

Puluhan pasien baru biasanya dikumpulkan dalam satu ruangan dan diberikan semacam kuliah mengenai pola makan sehat.

Dokter yang Maret lalu menyelesaikan program doktoralnya di bidang gizi itu berpendirian bahwa pola makan bagaimana pun adalah ”obat” yang fundamental dalam menyembuhkan penyakit.

Bukan berarti ia anti-obat.

Namun, ia tak ingin pasien seumur hidup bergantung pada obat tanpa sudi mengubah gaya hidup melalui pola makan sehat.

Simak pengalaman Yulianti (39). Bulan Januari lalu, dia tersentak mengetahui dirinya ternyata terkena diabetes dengan gula darah tinggi mencapai 460 dan HbA1 bertengger di angka melampaui normal 9,7 persen.

Yulianti yang menggemari jajan ini sempat berusaha mengubah pola makan dengan mengganti nasi menjadi nasi merah atau kentang.

Namun, setelah beberapa bulan, tak ada perbaikan.

Sampai akhirnya bertemu dengan dr Tan.

Dengan mengikuti anjuran dari dr Tan, Yulianti mengganti sumber karbohidratnya hanya dari sayuran mentah, seperti aneka selada, tomat, dan mentimun.

Dia kemudian makan lauk-pauk sumber protein seperti biasa, terutama ikan dan ayam.

Setelah tiga bulan, kondisinya jauh membaik, tanpa harus minum obat apa pun dan tanpa bantuan injeksi insulin.

Gula darah Yulianti turun menjadi 140 dan HbA1 turun dua poin di angka 7,1 persen. HbA1 amat penting diketahui untuk mengetahui kadar glukosa darah rata-rata dalam sel darah merah selama 2-3 bulan terakhir.

Dr Tan mengumpamakan Hb1A semacam scoring board yang bisa memprediksi risiko terjadinya komplikasi penderita diabetes.

Nilai kontrol HbA1 yang baik bagi penderita diabetes harus di bawah 6,5 persen.

Karbohidrat terbaik Dr Tan menjelaskan, sumber pangan yang dibutuhkan manusia sebenarnya sederhana saja, yakni makronutrien dan mikronutrien.

Makronutrien adalah karbohidrat, protein, dan lemak.

Mikronutrien adalah unsur mineral dan vitamin.

Dalam hal karbohidrat, kita terbiasa mengenal sumbernya hanya beras atau nasi, roti, dan sumber berpati.

Namun, dr Tan menegaskan, sumber karbohidrat terbaik bagi manusia sebenarnya adalah sayur-sayuran mentah dan buah-buahan.

Kita selama ini tak menyadari bahwa sayuran juga merupakan sumber karbohidrat, bahkan yang terbaik.

Sayuran memiliki indeks glikemik yang rendah, tidak terlalu cepat diubah menjadi gula darah dalam dua jam setelah makan, berserat, berkapasitas antioksidan tinggi, dan alkalis (tidak asam yang mempercepat perusakan organ tubuh).

Oleh karena itu, dr Tan menyarankan pasiennya mengubah sumber karbohidratnya dengan sayuran segar saban hari setiap kali makan 200 gram dipadu dengan lauk-pauk tanpa digoreng.

Sayuran mentah masih memiliki enzim hidup yang membuat tubuh tidak perlu boros enzim untuk mengolahnya.

Nasi dan makanan berpati atau terigu memiliki indeks glikemik tinggi sehingga cepat diubah menjadi gula darah yang mengakibatkan lonjakan insulin mendadak.

Lonjakan insulin ini memancing hormon eicosanoids pro-peradangan yang berujung pada investasi berbagai penyakit, termasuk yang belum disadari gejalanya.

Pola makan yang baik membuat hormon eicosanoids anti-peradangan berdaulat yang berfungsi perbaikan dan peremajaan.

Pola makan tanpa nasi, gula, tepung, atau sumber pangan berpati dengan indeks glikemik tinggi telah terbukti membuat orang hidup lebih sehat dan tenteram.

”Makanan terbaik adalah makanan paling alami yang telah diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia ada. Nasi, gula, tepung adalah makanan dagangan yang sarat kepentingan ekonomi politik saja. Itu sekadar makanan budaya, bukan yang dibutuhkan oleh tubuh kita,” kata dr Tan.

Yulianti dan Lena telah merasakan sendiri manfaatnya.

”Pokoknya, sekarang, rasanya tenteram walaupun selalu digugat teman-teman kenapa enggak makan nasi,” ujar Lena.

Begitu pula dengan Yulianti.

Sekalipun awalnya ditertawakan teman-teman sekantornya karena berhenti total makan nasi, Yulianti tidak patah arang.

Selama tiga bulan terakhir ini dia merasakan energi bugar yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Performa tubuh jauh membaik, konsentrasi membaik, tidak mudah lelah, terasa enteng, dan mengantuk.

”Sekarang saya tinggal perlu lebih giat lagi berolahraga,” kata Yulianti penuh tekad.

Pola makan sehat demikian, menurut dr Tan, tidak hanya wajib diikuti mereka yang mengidap penyakit, tetapi juga yang masih sehat, bahkan sejak usia kanak-kanak.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved