Koran Warta Kota
Bingung Tiang Bambu Bendera Viral
Lurah Penjaringan, Depika Romadi, kaget masalah pemasangan puluhan bendera negara peserta Asian Games 2018 di wilayahnya menjadi kontroversi.
LURAH Penjaringan, Depika Romadi, kaget masalah pemasangan puluhan bendera negara peserta Asian Games 2018 di wilayahnya menjadi kontroversi.
Yang jadi sorotan adalah, pemasangan bendera di Jalan Pluit Selatan Raya, tepatnya di antara Pluit Junction dan Emporium Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, itu memakai batang bambu sederhana.
Foto-foto puluhan bendera dengan batang bambu itu beredar di media sosial dan viral. Netizen pun banyak yang berkomentar negatif.
Misalnya akun @kaifkrniaa yang menyebut tiang bambu yang dipasang untuk mengibarkan puluhan bendera negara peserta Asian Games itu tidak pantas.
Padahal Pemprov DKI Jakarta mampu membeli tong sampah asal Jerman seharga miliaran rupiah.
"Beli tiang lah pak buat bendera2 negara asing.. Peka dikit napa.. kalo mau ditaro situ ya pake uang pemda dong .. Beli tong sampah milyaran aja bisa masa tiang aja gabisa pak? hehe," tulisnya, diakhiri tagar #SalamWaras.
Sebagai lurah, Depika Romadi mengatakan pihaknya tidak habis pikir mengapa pemasangan bendera tersebut menjadi viral di media sosial.
Padahal itu semua semata-mata untuk menyemarakkan Asian Games 2018.
"Karena ini sudah viral. Kita juga bingung, kenapa ini bisa sampai viral? Sampai segitunya. Padahal pikiran anak-anak muda, pikiran saya, kita bikin ini hanya untuk memeriahkan, meramaikan Asian Games aja. Hanya pikiran sederhana anak-anak Penjaringan," katanya, Rabu (18/7/2018).
Depika menceritakan, pemasangan bendera tersebut dilakukan oleh warga setelah pawai replika obor Asian Games 2018 pada Minggu (15/7/2018).
Ketika pawai, bendera-bendera tersebut masih dipakai untuk mengiringi para pelari.
"Setelah itu kan mereka yang bawa-bawa bendera ini ada yang dibawa pulang, ada yang dikumpulkan. Nah mereka ini yang pasang bendera itu. Daripada terbuang percuma, mendingan dimanfaatkan," ujarnya.
Menurut Depika, warga sebelumnya sempat meminta izin kepadanya untuk memasang puluhan bendera tersebut.
Ia pun ketika itu tidak mempermasalahkan niat baik warga untuk memeriahkam Asian Games 2018 itu.
"Relay (pawai) itu selesai jam 1 siang. Setelah itu mereka bicara, boleh nggak pak kalau dipasang ini buat meramaikan (Asian Games). Saya sampaikan, selama itu tidak mengganggu kemeriahan, ya silakan," ujarnya.
Hanya saja Depika mengaku tidak mengetahui persis kapan tepatnya pemasangan bendera tersebut dilakukan warga.
"Memang pas malamnya, saya lihat sudah ada gitu. Tapi pada saat pastinya mereka masang itu jam berapa, saya kurang paham. Tapi waktu malam memang saya lihat sudah ada," ujarnya.
Instruksi gubernur
Setelah viral dan menjadi sasaran bully di media sosial, puluhan bendera itu dicopot oleh petugas Penanganan Prasaran dan Sarana Umum (PPSU), pada Selasa (17/7/2018) pukul 18.40 WIB.
Namun, hal itu pun mengundang komentar beberapa warga yang mengaku kecewa atas penurunan bendera negara peserta Asian Games tersebut.
Rupanya hal itu mendapat perhatian khusus dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.
Anies menginstruksikan agar seluruh bendera kembali dipasang dengan bangga, walau bahan yang dipakai hanya bahan bambu bekas.
Keputusan tersebut tertuang dalam memo yang dibuatnya Selasa (17/7/2018) malam.
Dalam memo itu, Anies menginstruksikan Wali Kota Jakarta Utara Syamsudin Lologau untuk kembali memasang seluruh bendera yang merupakan inisiatif warga itu.
Menurut Anies, walau tiang yang dipasang hanya berupa bambu bekas dan sederhana, terdapat ketulusan warga untuk berpartisipasi dalam mensukseskan Asian Games 2018.
"Saya baru membaca bahwa tiang bambu bendera peserta Asian Games di Penjaringan diturunkan oleh PPSU sebagai reaksi atas serangan di media dan di media sosial.
Pemasangan bendera itu adalah inisiatif warga.
Jangan halangi, jangan rendahkan dan mari kita izinkan rakyat merayakan Asian Games dengan kemampuannya, dengan ketulusannya.
Bambunya memang bekas tapi ketulusannya original.
Bambunya agak melengkung, tapi niat mereka lurus.
Bambunya pendek, tapi semangat mereka tinggi sekali," tulis Anies.
Ia justru menyatakan hal ini bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.
"Saya berharap, tiang bambu dan bendera sederhana inisiatif warga ini malah akan jadi inspirasi bagi warga kampung lainnya untuk mempercantik lingkungannya, menyambut tamu-tamu yang datang ke Jakarta yang ikut mereka rasakan sebagai rumah besar milik mereka," ujarnya.
Maka, Anies pun memerintahkan bendera yang sudah diturunkan oleh PPSU itu dipasang lagi.
"Lewat memo ini saya instruksikan untuk dipasang kembali. Harap pastikan keamanan dan kerapiannya," tegasnya.
Memprihatinkan
Menindaklanjuti instruksi Anies, maka Rabu kemarin puluhan bendera itu kembali dipasang di tempat semula, antara Pluit Junction dan Emporium Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
Pantauan Warta Kota di lokasi, puluhan bendera tersebut dipasang di atas pagar pembatas jalan.
Bendera-bendera itu diikat pada bambu yang sudah dicat warna putih. Pada bambu itu juga ditempelkan tulisan nama negara yang benderanya terpasang.
Kondisi puluhan bendera yang terpasang warnanya masih bagus. Hanya saja pada bagian pinggirannya tidak dijahit sehingga terlihat berantakan.
Bendera yang terlihat antara lain bendera Thailand, Vietnam, Bangladesh dan lainnya.
Sementara kondisi pagar pembatas jalan yang ada juga sangat memprihatinkan.
Kondisinya sudah berkarat dan ada beberapa bagiannya yang hilang. Pagar pun bolong-bolong.
Sisa pawai
Terkait pencopotan dan pemasangan kembali puluhan bendera itu, Lurah Penjaringan Depika Romadi memberikan penjelasannya.
"Itu (pencopotan) karena viral. Karena viral, biar nggak ramai, mereka yang piket cabut (bendera)," katanya, Rabu (18/7/2018).
Depika menolak bahwa tindakan pencopotan tersebut merupakan instruksinya.
Namun demikian dirinya mengetahui pencopotan puluhan bendera sehingga bisa diambil tindakan secepatnya.
"Nggak (instruksi) tapi saya tahu mereka cabut. Tapi memang habis dicabut kita rapikan, kita simpan, makanya begitu ada arahan (Gubernur) kita bisa langsung cepat pasang lagi," jelasnya.
Mengapa dari jumlah 46 negara peserta Asian Games, hanya 28 negara saja yang benderanya dipasang?
Menurut Depika, bendera-bendera yang dipasang berasal dari pawai replika obor Asian Games 2018 yang digelar pada Minggu (15/7/2018).
"Awal pawai itu, benderanya lengkap 46 dibawa. Tapi setelah pawai, kan namanya anak-anak, ada yang dia bawa pulang, ada yang dia taruh. Jadi ini sisa, ini mereka yang kumpulkan, yang mereka pasang," ucapnya. (jhs/dwi/m)
Berita selengkapnya baca koran Warta Kota edisi Kamis, 19 Juli 2018
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/hl2-wk1907_20180719_075124.jpg)