Kamis, 7 Mei 2026

Ketika Driver Ojek Online Masa Bodoh Dengan Putusan Mahkamah Konstitusi

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan angkutan roda dua menjadi angkutan umum tidak digubris driver ojek online.

Tayang:
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Deni Pamungkas, Driver Gojek Pejompongan. 

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan angkutan roda dua menjadi angkutan umum tidak digubris driver ojek online.

Mereka mengaku cuek dan tetap beroperasi seperti biasanya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Adi Suhadi, Driver Gojek asal Slipi, Jakarta Barat. Menurutnya, selama masih tetap diperbolehkan beroperasi, dirinya maupun rekan ojek online lainnya tetap akan beroperasi.

Keputusan tersebut pun katanya tidak mempengaruhi aksi kepedulian yang tengah dilakoninya. Bahkan pendiri gerakan Gojek Peduli Anak Yatim (Gopay) itu mengaku lebih semangat untuk tetap mengajak seluruh komunitas gojek menyantuni ratusan anak yatim mitra Go-Jek setiap bulan.

"Apapun keputusan pemerintah, kalau kita memang bisa berjalan, kenapa tidak. Karena kita perlu membantu, ya kita akan terus dan tambah bersemangat," ungkapnya ditemui di lingkungan Go-Food festival Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat pada Jumat (29/6/2018).

Pernyataan serupa disampaikan Deni Pamungkas, Driver Gojek Pejompongan. Keputusan tersebut katanya tidak menyurutkan gerakan aksi bersih ranjau paku komunitas gojek. Sebab, menurutnya keselamatan berkendara adalah hal utama, terlebih driver ojek online berpotensi besar menjadi korban.

"Nggak perduli, kalau kita yang penting bisa narik (beroperasi). Keputusan juga nggak bakal ngerubah aksi sosial kita, soalnya korban kecelakaan dari ranjau paku itu mayoritas driver ojek online. Bukan cuma ditembak harga mahal di tambal ban, bahayanya kecelakaan," ungkapnya.

Ditemui bersamaan, Endang Irawan, Driver Ojek asal Kemayoran menilai putusan MK tidak berpengaruh banyak. Menurutnya, selama driver tulus bekerja dan mempercayakan nasib sepenuhnya kepada tuhan yang maha esa, rezeki bakal mengalir.

"Rezeki dari Allah, meskipun kita ngojek tiap hari kalau rezeki Rp 200.000 perhari ya sudah ikhlas dan sabar. Saya dua hari pernah Rp 600.000 dalam dua hari. Intinya ikhtiar," ungkap Endang, pendiri pesantren tahfizh Qur'an di wilayah Ciomas, Jawa Barat dari hasil Gojek.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved