Amnesty International: Menghukum Mati Aman Abdurrahman Bukan Solusi

Usman mengatakan, serangan-serangan mematikan terhadap warga sipil merupakan hal yang sangat mengerikan.

TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Aman Abdurrahman mendengar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). 

AMNESTY International menganggap hukuman mati terhadap terpidana sejumlah aksi teror di Indonesia, Aman Abdurrahman, bukan solusi menanggulangi terorisme.

"Hukuman mati terhadap Aman Abdurrahman bukan solusi," ujar Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid melalui keterangan tertulis, Sabtu (23/6/2018).

Usman mengatakan, serangan-serangan mematikan terhadap warga sipil merupakan hal yang sangat mengerikan. Pemerintah Indonesia berhak untuk mengejar dan mengadili para pelaku.

Baca: Jatuhkan Vonis Mati, Hakim Tidak Temukan Hal Meringankan dari Aman Abdurrahman

“Namun, pemberian putusan hukuman mati terhadap pelaku, termasuk narapidana teroris, jelas tidak memberi efek jera yang besar. Hal ini sudah berulang kali terbukti," kata Usman.

Menurut Usman, hukuman mati melanggar hak untuk hidup dan merupakan hukuman paling kejam, tidak manusiawi, dan sanksi tersebut merendahkan martabat manusia, karena menyangkal hak orang untuk hidup.

“Pemerintah sering menjadikan langkah ini sebagai alat untuk menunjukkan ‘kekuatan’ mereka di mata masyarakat, ketika menghadapi ancaman atau krisis nasional," ucapnya.

Baca: Divonis Mati, Aman Abdurrahman Menolak Banding

Usman mengatakan, sistem peradilan pidana di Indonesia masih sangat cacat. Penerapan peradilan bagi narapidana yang menghadapi dakwaan atas kejahatan-kejahatan seperti narkoba, pembunuhan, dan terorisme, di mana hukuman mati dapat diputuskan, sering sangat tidak adil.

"Para tersangka sering mengalami penyiksaan pada saat interogasi dilakukan, dan pengadilan sering membenarkan 'pengakuan' yang telah tercemar akibat penyiksaan tersebut sebagai bukti," tutur Usman.

Usman memaparkan, para pembuat kebijakan tidak boleh terpengaruh oleh reaksi-reaksi kuat yang muncul pasca-serangan kekerasan terjadi.

"Mereka harus sanggup menghapus hukuman mati," tegasnya. (Dennis Destryawan)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved