Sejumlah Faktor Penyebab Kian Meredupnya Kebudayaan Betawi

Faktor proses pembuatan izin memang masih ruwet dan sulit dikeluarkan.

Sejumlah Faktor Penyebab Kian Meredupnya Kebudayaan Betawi
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Kebudayaan Betawi dinilai semakin tersudut dan meredup. 

SEJUMLAH faktor menjadi penyebab meredupnya kebudayaan Betawi.

Kebudayaan betawi di Kota Jakarta Barat, mulai meredup. Hal ini pun mulai nampak dengan kurangnya aktifitas para pengelola sanggar kebudayaan betawi di Kota Jakarta Barat.

"Di DKI Jakarta sendiri, terdapat 1.500 sanggar kesenian betawi berdiri. Itu juga sudah kurang jumlahnya sekitar 50 persen dari sebelumnya sebanyak 3.000 sanggar. 1.500 sanggar itu kini masih aktif dalam kegiatan. Akan tetapi, faktor proses pembuatan izin memang masih ruwet dan sulit dikeluarkan," kata Kepala Unit Pengelola (UP) Pusat Pelatihan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Imron, Senin (18/6/2018).

Menurut Imron, banyak sanggar menggunakan bangunan yang sekaligus dijadikan hunian. Ini, yang menyebabkan sulitnya memberikan soal izin mendirikan sanggar.

"Pada kenyataannya banyak sanggar-sanggar menumpang pada rumah tinggal. Sedangkan dalam hal ini pihak kami tidak dapat keluarkan izin. Jadi, sudah banyak pemilik sanggar yang putuskan tak lagi perpanjang izin operasional. Sekarang sanggar yang memiliki izin itu hanya ada 153 sanggar. Itu pun sanggar yang dibina oleh lembaga kebudayaan betawi," kata Imron.

Tetapi, Imron mengklaim, hingga kini pihaknya masih melakukan pembinaan terhadap pelaku seni dan budaya khususnya untuk kebudayaan betawi. Mulai dari pelatihan, pergelaran hingga promosi kesenian seni budaya tradisional.

"Tahun ini ada 86 pelatihan diberikan. Baik tari tradisional, lenong, teater modern, hingga seni musik. Pelatihan itu paling banyak dilakukan di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Terkait pola-pola pembinaan tak hanya soal seni saja. Akan namun pelatihan pembuatan produk kesenian," ungkapnya.

Mengenai bantuan bahan baku produksi, lanjut Imron, pihaknya tidak bisa memberikan. Sebab sudah bersifat bantuan usaha.

"Kami sarankan untuk semua pelaku pengrajin kesenian, untuk masuk pada program OK-OCE. Seperti pelaku kesenian lainnya. Yakni setelah diberikan pelatihan oleh kami, para pelaku seni itu bergabung dalam program OK OCE. Setelah itu modal usaha akan diberikan. Namun terkait sifatnya bantuan modal belum ada ya. Kami ini hanya fokus berikan pembinaan, dan pelatihan saja," paparnya.

Dia menambahkan, "Bagaimana kembangkan kemampuan para pelaku seni, hingga berbagai promosi pun kami berikan. Contohnya, dengan menggelar pagelaran seni budaya lewat media sosial (Medsos) dan masih banyak lagi," papar Imron kembali.

Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved