Breaking News:

Kuasa Hukum Sebut Tio Pakusadewo Dikenakan Pasal Pengedar Gelap

"Jadi kita tidak sepakat dengan rekan-rekan JPU, mereka memakai pasal yang menurut kami keliru.

Penulis: Arie Puji Waluyo | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Tio Pakusadewo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018). 

AKTOR Tio Pakusadewo (54) dituntut enam tahun kurungan penjara dan denda sebesar Rp. 800 juta oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), karena terbukti bersalah dalam kasus penyalahgunaan narkotika yang menjeratnya.

Menanggapi tuntutan hukum JPU, kuasa hukum Tio, Aris Marassambesy menyayangkan langkah jaksa yang tidak melihat fakta-fakta persidangan untuk memberikan tuntutan hukum kepada kliennya.

"Saya cuma menyayangkan satu, adalah JPU tidak melihat fakta-fakta persidangan saat menuntut Tio. Bahkan setelah kami pelajari dengan teliti, ternyata dalam tuntutan jaksa itu, tidak mengambil secara penuh dan utuh kesaksian saksi-saksi dan ahli-ahli yang telah dihadirkan dalam persidangan," kata Aris Marassambessy.

Hal itu ia katakan usai jalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018) usai sidang Tio Pakusadewo.

"Termasuk saksi dari jaksa sendiri, bahkan barang bukti2 tidak dijadikan pertimbangan, hanya dituliskan. Makanya itu yg kami sesalkan, tapi jaksa melakukan tugasnya, kami juga melakukan tugasnya untuk melakukan pembelaan secara optimal," tambahnya.

Bahkan, Aris menilai Jaksa keliru menyangkalkan pasal-pasal, yakni Pasal 114 jo 112, subsider pasal 127 jo pasal 132 UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika kepada Tio.

"Jadi kita tidak sepakat dengan rekan-rekan JPU, mereka memakai pasal yang menurut kami keliru. Mereka memakai pasal yang digunakan untuk peredaran gelap, yakni pasal 112. Bagi kami, JPU tidak bisa serta merta memasukan ke situ," ucapnya.

Bagi Aris, JPU sangat berbahaya memasukan pasal 112 dalam berkas perkara Tio. Berbahayanya adalah JPU akan mencederakan arti dari pengguna narkotika yang seharusnya di rehabilitasi.

"Kalau seandainya pengguna langsung didakwakan dituntut Pasal 112 itu berbahaya sekali. Om Tio bukan pengedar. Tapi dikenai pasal 112 yang pantas ditempatkan untuk peredaran gelap," ungkapnya.

Aris menjelaskan bahwa alasan JPU menggunakan pasal tersebut, dikarenakan yang memberatkan adalah Tio menyimpan barang bukti sabu-sabu seberat 1,06 gram netto.

"Karena orang yang memakai pasti akan menyimpan dan menguasai. Lalu yang saya kritik terhadap tuntutan jaksa juga, kok mainnya berat kotor terus 1,06 , kenapa nggak diungkap berat nettonya 0,4. Masa orang make barang-barang sama plastiknya, gak mungkin dong," jelasnya.

Lanjut Aris, pengguna narkotika harus dilindungi dengan di rehabilitasi. Dikarenakan jika tidak di rehab, maka pengguna narkotika bisa menjadi gila karena ketergantungan.

"Oleh karena itu Tio pantas di rehabilitasi," ujar Aris Marassambesy. (ARI)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved