Puluhan Wanita Bekasi Derita Kanker Serviks

"Namun ada beberapa kasus, hanya serviks yang diangkat dan rahim bisa dibiarkan saja," ujar Dezi.

Puluhan Wanita Bekasi Derita Kanker Serviks
Kompas.com
Ilustrasi. 

Dinas Kesehatan Kota Bekasi mengindikasikan 21 perempuan di wilayah setempat mengidap kanker serviks atau mulut rahim. Angka ini diperoleh saat dinas melakukan pemeriksaan kanker serviks terhadap 4.163 perempuan pada 2017 lalu.

"Metode pemeriksaannya menggunakan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) secara gratis di puskesmas di Kota Bekasi pada 2017 lalu," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati pada Selasa (5/6).

Dezi mengatakan, petugas telah menyarankan mereka agar melakukan pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit. Upaya ini dilakukan guna mendapat penanganan lebih dini dan serius terhadap penyakitnya.

Menurut dia, kanker serviks bisa diobati dengan cara operasi apabila diagnosis dilakukan pada tingkat awal. Namun pada kondisi yang lebih serius, rahim perlu diangkat seluruhnya yang disebut histerektomi.

"Namun ada beberapa kasus, hanya serviks yang diangkat dan rahim bisa dibiarkan saja," ujar Dezi.

Dia menjelaskan, semua perempuan dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks, terutama perempuan yang aktif secara seksual. Gejalanya beragam misalnya, pendarahan pada vagina yang terjadi setelah berhubungan seks di luar masa menstruasi atau setelah menopause, mengeluarkan cairan tanpa berhenti dari vagina dengan bau yang aneh atau berbeda dari biasanya, berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau mengandung darah.

Lalu perempuan cenderung mengalami sakit saat berhubungan seksual dan perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya menstruasi yang lebih dari tujuh hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan dalam jumlah yang sangat banyak.

Karena itu, dia menyarankan kepada perempuan yang aktif secara seksual dan berusia 25-49 tahun supaya diperiksa setiap tiga tahun sekali. Sedangkan wanita berusia 50-64 tahun dapat diperiksa setiap lima tahun sekali.

"Penyakit ini disebabkan oleh human papillomavirus atau HPV dan yang paling berbahaya adalah HPV 16 dan HPV 18. Kedua jenis virus ini yang menyebabkan 70 persen kasus kanker serviks," jelasnya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati menyarankan agar masyarakat melakukan vaksinasi HPV rutin guna menekan potensi kanker serviks. Saat ini pemerintah belum melakukan imunisasi HPV secara massal, karena belum mendapat instruksi dari Kementerian Kesehatan.

Bagi yang sudah mengidap penyakit ini pada tingkat awal, sebaiknya mengobati penyakit tersebut ke rumah sakit. Soal biaya, kata dia, masyarakat Kota Bekasi tidak perlu risau karena pemerintah telah memiliki jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) berupa Kartu Sehat Berbasis Nomor Induk Kependudukan (KS NIK). Alokasi dana yang disiapkan mencapai Rp 150 miliar pada tahun 2018.

Rinciannya Rp 50 miliar disimpan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, sedangkan sisanya disiapkan untuk seluruh rumah sakit swasta di Kota Bekasi, DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi dan Kota Tangerang.

"Saat ini baru ada 56 fasilitas kesehatan yang menjadi rekanan KS NIK di lima wilayah tersebut. Pemerintah terus berupaya menambah jumlah rekanan rumah sakit, sehingga jangkauan warga Kota Bekasi yang memegang KS NIK untuk mendapat layanan gratis lebih luas," ujarnya. (faf)

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved