Breaking News:

Berangkat dari Kelumpuhan, Atina Kini Hidupi Puluhan Karyawan

Doa, mimpi dan usaha. Ketiga hal tersebut dipercaya Atina Maulia (24) pemilik Vanilla Hijab merupakan kunci sukses berusaha.

Warta Kota/Dwi Rizki
Atina Maulia (24) pemilik Vanilla Hijab. Doa, mimpi dan usaha. Ketiga hal tersebut dipercayainya merupakan kunci sukses berusaha. Bukan tanpa alasan, dirinya yang semula terduduk lemah di kursi roda sekitar empat tahun yang lalu itu justru berhasil bangkit hingga dapat menghidupi puluhan pegawai di bawah usaha hijab online miliknya. 

DOA, mimpi dan usaha. Ketiga hal tersebut dipercaya Atina Maulia (24) pemilik Vanilla Hijab merupakan kunci sukses berusaha.

Bukan tanpa alasan, dirinya yang semula terduduk lemah di kursi roda sekitar empat tahun yang lalu itu justru berhasil bangkit hingga dapat menghidupi puluhan pegawai di bawah usaha hijab online miliknya.

"Jadi saya ingin ceritakan bagaimana kekuatan doa, mimpi dan usaha. Jadi doa aja tanpa ikhtiar itu tidak mungkin, ikhtiar aja tanpa doa itu sombong," ungkapnya ditemui usai pelatihan kewirausahaan Madrasah Enterprenuer di Majelis Taklim Binaul Ummah, Perum Margahayu Jaya, Jalan Margahayu Raya Blok D 2700 samping sekolah mandalahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Minggu (3/6/2018).

Diceritakannya, perjalanan usahanya bermula dari musibah yang dialami ketika dirinya didiagnosa mengidap Penyakit rematik autoimun atau rheumatic autoimmune disease ketika berusia 19 tahun.

Penyakit tersebut membawanya kepada kelumpuhan kaki, padahal ketika itu dirinya tengah berkuliah di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2014 lalu.

Di tengah kebimbangan, dirinya bersama sang kakak, Intan Kusuma (25) berpikir untuk memulai usaha, mengingat biaya rumah sakit dan waktunya yang terbuang percuma.

Usaha yang dipilihnya adalah penjualan hijab yang diberinya nama, Vanilla Hijab.

Dirinya pun memilih berjualan lewat online mengingat keterbatasan modal dan tempat usaha, sedangkan hijab buatannya diproduksi oleh tukang jahit keliling yang biasa mangkal di depan rumahnya.

"Saya memulai usaha waktu umur saya 20 tahun, sekarang umur saya 24. Jadi saya dulu kuliah di bandung, di ITB, saya sakit, nggak bisa jalan di kursi roda, saya pindah ke Jakarta dan saya pikir gua mau usaha apa ya, karena saya pikir saya bisa usaha apa, sementara saya di kursi roda, nggak bisa jalan, terus bisa punya duit dari mana," ungkapnya.

"Akhirnya saya jualan online dan mulai kuliah lagi di kampus baru, sambil jualan, saya kuliah 30 SKS satu semester untuk kejar ketertinggalan, saya kuliah pagi dan malam saya kuliah lagi ambil kelas karyawan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar," tambahnya bersemangat.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved