Breaking News:

Ramadan 2018

Menengok Masjid Besar Suruh, Sisa Kejayaan Zaman Mataram 

Piagam beraksara Arab Pegon dan aksara Jawa tersebut "ditandatangani" oleh Kiai Mas Ngabehi AstraWijaya, salah seorang adipati Semarang..

Kompas.com/Syahrul Munir
KENTONGAN dan beduk Masjid Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Masjid ini didirikan tahun 1816 dan menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram. 

Jika diperhatikan, ciri khas masjid kuno ini bisa dilihat mulai dari atap berundak khas Masjid Agung Demak peninggalan Wali Songo. Kemudian umpak (alas) soko atau tiang utama masjid, mimbar hingga ornamen-ornamen kayu jati penghias pintu dan jendela.

"Untuk mimbar yang masih asli sekarang sudah tidak dipakai, karena dimakan usia dan faktor keselamatan. Sekarang masih ada di dalam masjid," ujarnya.

ATAP berundak Masjid Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, yang dibangun tahun 1816 dan menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram.
ATAP berundak Masjid Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, yang dibangun tahun 1816 dan menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram. (Kompas.com/Syahrul Munir)

Beduk dan Kentongan

Selain bangunan masjid, peninggalan lainnya adalah berupa beduk besar dan sebuah kentongan. Terdapat tarikh pada kentongan besar yang digantung dekat beduk tersebut tertera angka tahun 1889.

"Informasi yang kami terima, beduk di sini ini kedua yang terbesar setelah yang di Purworejo," imbuhnya.

Konon, di kompleks Masjid Besar Suruh ini juga terdapat benda-benda purbakala lainnya. Antara lain sebuah Yoni, umpak dan sebuah tempayan tembaga besar.

Benda-benda ini menunjukkan bahwa kompleks di Masjid Besar Suruh ini dahulu adalah tempat pemujaan Agama Hindu. Namun sayangnya, benda-benda tersebut seperti umpak dan tempayan tembaga besar telah raib.

Hanya Yoni yang masih bisa dilihat hingga sekarang, namun telah berubah fungsi menjadi jam bencet atau jam matahari sebagai penentu waktu shalat, sejak awal masjid berdiri.

Salah seorang warga Suruh, M Farhan (40) mengaku bangga dengan keberadaan Masjid Besar Suruh. Ia mengapresiasi para tokoh masyarakat, para pengurus masjid dan seluruh warga yang nguri-uri (melestarikan) atau mempertahankan keaslian arsitektur masjid tersebut.

Sebab, menurutnya, keberadaan Masjid Besar Suruh merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Suruh dan sekitarnya.

Halaman
123
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved