Rabu, 15 April 2026

Nyaris Dibunuh Ninja dan Disantet Pernah Dialami Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar

Mantan Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar mengaku menerima sederet ancaman saat bertugas sebagai hakim.

TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Artidjo Alkostar di media center Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018). 

MANTAN Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar mengaku menerima sederet ancaman saat bertugas sebagai hakim.

Bahkan, ancaman itu diterimanya saat masih menjadi pengacara. Hal itu terjadi, kata Artidjo, saat membela kasus Santa Cruz di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste). Dia mengaku hampir dibunuh oleh seseorang yang berpakaian seperti ninja.

"Pernah mau dibunuh saya jam 12 malam. Tapi, Allah melindungi saya yang didatangi oleh ninja itu. Ninja tahu lah di Timtim itu siapa ninja," ujar Artidjo di media center Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018).

Baca: Pensiun Jadi Hakim Agung, Artidjo Alkostar Bakal Pelihara Kambing di Kampung Halaman

Pria berumur 70 tahun ini bercerita bahwa ancaman dan serangan ninja itu salah sasaran, dan justru menyasar ke asisten Artidjo. Ancaman pembunuhan juga diterimanya saat membela kasus penembakan misterius di Yogyakarta. Saat itu dirinya sebagai pengacara di LBH Yogyakarta

"Saya pernah diancam, 'Artidjo kamu jangan sok pahlawan. Penembak misterius datang ke tempat tidur kamu'," ungkap Artidjo menirukan peristiwa saat itu.

Bahkan, hakim yang ditakuti para koruptor ini mengaku pernah menjadi sasaran santet saat menjadi hakim agung.

Baca: 18 Tahun Jadi Hakim Agung, Artidjo Alkostar Total Tangani 19.708 Kasus

"Kalau orang akan menyantet saya itu salah alamat juga. Katanya pernah mau disantet. Dipake foto, saya katakan, wah, ini mesti kelas TK ini," tutur Artidjo.

Meski demikian, semua ancaman yang bertubi-tubi menghampirinya tidak membuatnya gentar sedikit pun. Justru, dia malah mengabaikan ancaman tersebut.

Kata Artidjo, darah Madura yang mengalir dalam tubuhnya menjadi alasan dirinya tak takut. Sejak kecil, dia sudah kenyang dengan silat, berkelahi, bahkan Artidjo sering bertarung dengan celurit saat kecil.

"Jadi, tidak memungkinkan. Darah Madura saya tidak memungkinkan untuk menjadi takut sama orang," cetusnya. (Fransiskus Adhiyuda)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved