Mamah Muda Resah Digangguin Pengamen Anak Punk di Bekasi
PENUMPANG angkutan umum mengeluhkan keberadaan anak punk di sekitaran lampu merah depan Grand Mall, Jalan Sultan Agung, Bekasi Barat.
Penulis: Muhammad Azzam |
PENUMPANG angkutan umum mengeluhkan keberadaan anak punk di sekitaran lampu merah depan Grand Mall, Jalan Sultan Agung, Bekasi Barat.
Anak punk itu kerap kali meminta uang secara paksa usai mengamen.
Para penumpang yang didominasi kaum ibu ini mengaku resah dan cendrung memilih menggunakan ojek online ketimbang angkutan kota (angkot).
"Iya mas suka males kalau naik angkot kalau lagi ada anak punk yang ngamen. Udah nyanyi nya engga jelas, pas engga dikasih uang malah dia minta uang maksa gitu,"ujar Ica (34) penumpang angkot 03, kepada Warta Kota, Jumat (25/5/2018).
Ica menyayangkan keberadaan anak punk yang meresahkan tersebut seolah dibiarkan begitu saja oleh petugas kepolisian maupun Dinas Sosial Kota Bekasi.
"Ini mereka kan berkeliaran di sekitaran lampu merah, itu kan ada petugas kepolisian kok kayak dibiarkan gitu aja ya,"ucapnya.
Sementara Aminah (40), penumpang angkot 07 juga merasakan hal serupa. Ia menilai prilaku pengamen jalanan itu terkadang sampai diluar batas karena meminta duit sebanyak Rp 20 ribu. Duit sebesar itu mustinya ia gunakan untuk membayar ongkos.
"Duit buat bayar ongkos terpaksa saya kasih pengamen karena maksa. Mereka bilang saya belum makan lah dari kemarin, butuh uang biaya ini biaya itu. Pokoknya resah lah sama mereka," katanya.
Aminah berharap Kepolisian Metro Bekasi Kota segera melakukan tindakan tegas. Ia tak ingin para pengamen makin menjamur dan berkeliaran dengan jumlah yang lebih banyak.
"Kalau nggak ada razia pasti makin banyak," katanya.
Sementara Adrian, salah satu anggota Dinas Perhubungan Kota Bekasi mengatakan, para pengamen biasanya keluar sekitar jam 3 sore hingga larut malam. Jumlah mereka makin hari juga makin banyak.
"Sampai-sampai satu angkot bisa dinaikin sama 4 orang pengamen," katanya.
Dia menambahkan, posisi Dinas Perhubungan sama sekali tidak memiliki kewenangan menangkap mereka yang meresahkan.
"Padahal kalau mengacu pada keluhan mah banyak. Saya aja sering diminta masyarakat untuk menciduk mereka. Tapi kan balik lagi, itu bukan tugas saya," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180108bikin-resah-warga-belasan-anak-punk-diamankan1_20180108_165331.jpg)