LPAI Mengusulkan Langkah Tangkal Regenerasi Teror di Indonesia

Menurut LPAI, bocah itu sesungguhnya bukan satu-satunya anak yang membutuhkan perlindungan khusus itu.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor:
Warta Kota/Gopis Simatupang
Kak Seto 

WARTA KOTA, DEPOK---Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengapresiasi langkah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang berjanji akan memberikan perlindungan khusus itu kepada anak pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya yang selamat dan sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit.

Menurut LPAI, bocah itu sesungguhnya bukan satu-satunya anak yang membutuhkan perlindungan khusus itu.

Baca: Pekan Depan, LPAI Akan Bertemu Nafa Urbach

Sebab ada sekian banyak anak lagi yang ayah mereka tewas dengan sebutan sebagai terduga teroris.

Hal itu dikatakan Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, dalam pernyataan tertulis yang disampaikan Kabid Pemenuhan Hak Anak LPAI, Reza Indragiri Amriel, kepada Warta Kota, Rabu (23/5/2018).

Kak Seto mengatakan, teroris harus diperangi. Kejahatan serius itu harus ditangani dengan pendekatan hukum yang juga serius.

Baca: Ini Kata LPAI Adanya Anak Dipekerjakan di Pabrik Kembang Api Kembangan

Apalagi manakala aksi teror menyasar anak-anak hingga menderita cedera dan kehilangan nyawa, maka hukum harus tegas tanpa kompromi.

Akan tetapi, kata Kak Seto, selain bocah itu, masih ada sekian banyak anak yang ayah mereka tewas dengan sebutan sebagai terduga teroris dan juga membutuhkan perlindungan khusus.

"Walau status terduga sesungguhnya bermakna bahwa yang bersangkutan belum terbukti bersalah, namun anak-anak dan istri para terduga teroris itu kerap juga menerima sanksi sosial yang berat. Para yatim dan janda itu diusir dari tempat tinggal mereka dan dialienasi sedemikian rupa sehingga kesulitan mempertahankan hidup," katanya.

Baca: Cegah Prostitusi Anak, LPAI Usulkan Pemutusan Jaringan Internet

Menurut Kak Seto, anak-anak terduga teroris, bahkan sesungguhnya seluruh masyarakat, membutuhkan kepastian apakah orangtua mereka benar-benar teroris atau selama-lamanya berstatus sebagai orang yang diduga teroris.

"Padahal pasal 59 UU Perlindungan Anak menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi sasaran stigma, termasuk stigma akibat perbuatan orang tua mereka," kata Kak Seto.

Karenanya kata Kak Seto, anak-anak terduga teroris merupakan subjek yang relevan dengan isi pasal tersebut.

Baca: LPAI Serukan Predator Seksual Anak Tak Diberikan Remisi

*Selalim apa pun orangtua bahkan menjadi terpidana teroris, anak-anak yang mereka lahirkan tidak sepantasnya menerima getah akibat teror yang diduga mereka perbuat. Hak-hak atau kepentingan-kepentingan terbaik anak-anak para terduga teroris sepatutnya tetap terpenuhi," kata Kak Seto.

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved