Tak Ada Jaminan Keamanan, Jemaah Ahmadiyah di NTB 12 Tahun Menjadi Pengungsi

Sebanyak 24 perempuan, lansia, dan anak, saat ini terpaksa dievakuasi ke Mapolres Lombok Timur.

Tak Ada Jaminan Keamanan, Jemaah Ahmadiyah di NTB 12 Tahun Menjadi Pengungsi
WARTA KOTA/ANGGIE LIANDA PUTRI
Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus, Komisioner Khariroh Ali, Sekretaris dan Jubir Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, dan Koordinator Subkomisi Pemajuan HAM Beka Ulung Hapsara). 

KOMNAS Perempuan mengecam keras penyerangan dan vandalisme terhadap Jemaah Ahmadiyah yang terus berulang di Dusun Grepek Tanat Eat, Desa Greneg, Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), 19 - 20 Mei 2018.

Berdasarkan pengaduan yang diterima Komnas Perempuan, Jemaah Ahmadiyah menjadi korban penyerangan dalam bentuk pengusiran, ancaman, intimidasi, dan perusakan rumah penduduk.

"Ada tujuh kepala keluarga Ahmadiyah yang menjadi sasaran, enam rumah rusak, empat sepeda motor rusak berat, peralatan rumah tangga dan barang-barang elektronik hancur," ujar Komisioner Komnas Perempuan Khariroh Ali di kantornya, Senin (21/5/2018).

Baca: Mata Kiri Novel Baswedan Membaik, yang Kanan Malah Alami Penurunan Penglihatan

Sebanyak 24 perempuan, lansia, dan anak, saat ini terpaksa dievakuasi ke Mapolres Lombok Timur. Namun, aparat keamanan setempat tidak berhasil mencegah aksi-aksi intoleransi ini.

"Komnas Perempuan mencatat penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di NTB terjadi sejak 20 tahun yang lalu (Oktober 1998), dan terus berlangsung dengan tingkat eskalasi tinggi yang berujung pada pengusiran di tahun 2005 hingga tahun 2006, sehingga memaksa Ahmadiyah mendiami pengungsian di Transito dan Praya," ungkap Khariroh.

Mereka menjadi korban atas tindakan kelompok intoleran yang melakukan penyerangan secara fisik seperti perusakan tempat ibadah, penghancuran rumah, pengusiran, pemukulan, bahkan hingga pembunuhan.

Baca: Mantan Dirjen Hubla: Pernah Pintu Rumah Terbuka, Uang Rp 18 Miliar Saya Masih Ada

Jemaah juga mendapat perlakuan kekerasan nonfisik seperti pelarangan beribadah, penyegelan tempat ibadah, caci maki, dan berbagai tindakan pelecehan seksual.

Bahkan, dua tempat pengungsian Jemaah Ahmadiyah di Transito dan Praya menjadi tempat pengungsian terawet yang pernah ada di Indonesia sejak 2006 hingga saat ini.

"Artinya sudah 12 tahun Jemaah Ahmadiyah di NTB menjadi pengungsi Transito, karena ketidakpastian jaminan keamanan dan perlindungan sebagai warga negara," jelas Khariroh.

Baca: Veronica Tan Pernah Ancam Ceraikan Ahok Saat Ketahuan Hendak ke Singapura Bersama Julianto Tio

Kondisi tersebut membuat lima lembaga yang terdiri dari tiga Lembaga Nasional HAM (Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan KPAI), LPSK, dan ORI, merekomendasikan langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah. 

Berdasarkan pemantauan Komnas Perempuan terhadap kasus Ahmadiyah di NTB dan juga yang terjadi di wilayah lainnya seperti di Manis Lor (Jawa Barat), Cikeusik, dan Bekasi, sifat intoleransi terhadap kelompok agama minoritas menimbulkan dampak yang berkepanjangan untuk perempuan.

"Meskipun korban laki-laki juga mengalami kesengsaraan dan penderitaan yang sama, namun perempuan berhadapan dengan kerentanan khusus akibat peran gender yang dimainkannya, baik dalam perannya sebagai perempuan,  istri,  ibu, ataupun anggota masyarakat," papar khariroh. (*)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved