Dituduh Keturunan Orang Singapura, Jokowi: Bapak Saya dari Karanganyar, Ibu Boyolali

Menurut Presiden, kalau isu-isu seperti ini diteruskan, tidak produktif.

Dituduh Keturunan Orang Singapura, Jokowi: Bapak Saya dari Karanganyar, Ibu Boyolali
Istimewa
Presiden Joko Widodo ( Jokowi), pada Minggu (13/5/2018) sore, meninjau bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, Surabaya. 

PRESIDEN Joko Widodo menjawab berbagai isu yang menyerang dirinya, mulai dari isu bagian dari PKI hingga anak orang Singapura.

"Saya lahir tahun 1961, PKI itu dibubarkan 1965. Artinya saya masih balita, masih umur 3,5 tahun. Kan enggak mungkin ada balita PKI. Logikanya enggak masuk,” ujar Jokowi saat meresmikan operasional KA Minangkabau Ekspres, Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat, Senin (21/5/2018).

Terkait orangtua, kata Jokowi, ‎sekarang gampang dicek, sangat mudah, di mana Muhammadiyah ada cabang di Solo, NU ada cabang di Solo, PERSIS ada cabang di Solo, dan semua ormas ada cabang di Solo.

Baca: Tujuh Jenazah Teroris Bomber Surabaya Dimakamkan Tanpa Doa

“Tanyakan saja di masjid di dekat rumah saya. Siapa orangtua saya, siapa kakek nenek saya, siapa saya gampang banget," ujar Jokowi seperti dikutip dalam lama Sekretaris Kabinet.

Mengenai isu dirinya anak Oei Hong Leong, pengusaha asal Singapura, Presiden Jokowi mengatakan, dirinya harus menjawab hal ini karena isunya nanti bisa ke mana-mana. Jokowi menegaskan bahwa ibunya orang desa.

“Bapak saya dari Kabupaten Karanganyar, ibu saya dari Kabupaten Boyolali. Orang desa semuanya,” ungkap Presiden Jokowi, seraya mengakui bahwa dirinya juga bukan orang politik. “Saya dari kampung,” sambungnya.

Baca: Sandiaga Uno: Kita akan Buka Lapangan Kerja Digital Sebanyak-banyaknya di Jakarta

Menurut Presiden, kalau isu-isu seperti ini diteruskan, tidak produktif. Harusnya, lanjut Presiden, kita konsentrasi membangun infrastruktur, bangun bandara, bangun kereta api bandara, bangun jalan tol. Nanti, tahapan kedua pemerintah ingin membangun sumber daya manusia ke depan.

Tapi, Presiden menilai, energi kita habis untuk menjawab hal-hal seperti ini, tapi Jokowi merasa harus menjawab isu-isu tersebut, agar tidak merembet ke mana mana.

“Mestinya kita ini kita ini husnul tafahum bukan suul tafahum. Kalau suul tafahum itu gampang menduga, gampang berprasangka jelek, gampang berprasangka buruk, melihat sesuatu dengan pikiran negatif,” papar Presiden.

Baca: Lagi Gelar Razia, Aparat Langsung Siaga Saat Didatangi Wanita Bertutup Muka dan Gendong Tas Hitam

Sedangkan kalau husnul tafahum, menurut Presiden, selalu kita berpikiran positif, berpikiran dengan kecintaan, dan tidak ada prasangka buruk.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengajak semua pihak untuk selalu berpikir positif, bekerja secara produkif, sehingga ketertinggalan bangsa kita dari negara tetangga bisa dikejar bersama-sama. (Seno Tri Sulistiyono)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved