Aksi Terorisme

Mantan Teroris Ini Paparkan Perbedaan Aksi Terorisme di Indonesia pada Awal Milenium dan Zaman Now

Ia mengakui ada pemahaman yang lebih keras dan tidak toleran yang dipegang oleh pelaku teror di Indonesia akhir-akhir ini.

Mantan Teroris Ini Paparkan Perbedaan Aksi Terorisme di Indonesia pada Awal Milenium dan Zaman Now
TRIBUNNEWS/RIZAL BOMANTAMA
Haris Amir Falah, mantan narapidana kasus terorisme. 

EKS narapidana kasus terorisme Haris Amir Falah, memaparkan perbedaan aksi terorisme zaman kini dengan tindak pidana terorisme di Indonesia, yang dimulai dari bom malam Natal di sejumlah gereja pada 2000 silam, lalu bom Bali I pada 2002.

Ditemui Tribunnews.com di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018), terpidana kasus pendanaan latihan militer di Jalin Jantho, Aceh, ini menilai dari kasus Bom Bali I hingga kasus yang menjeratnya di tahun 2010, para pelaku dimotivasi solidaritas sesama muslim yang dibantai besar-besaran di Palestina.

“Waktu itu kami berpikir ada yang perlu dilakukan ketimbang bicara, kami perlu melakukan persiapan khusus untuk menghadapi kaum kafir yang kami anggap sewenang-wenang, yaitu bangsa yang melakukan pembantaian terhadap warga Palestina,” tuturnya.

Baca: Mesin Tapping OK Otrip Belum Akurat, Data Penumpang Dicatat Manual

“Tapi, kami tidak menganggap warga Indonesia yang tidak seagama atau tidak sepaham dengan kami sebagai kafir. Kami tidak mudah mengkafirkan dan toleran dalam kehidupan di Indonesia,” sambung Haris.

Oleh karena itu, menurutnya teroris di awal abad ke-21 menyasarkan aksi bom bunuh diri di objek simbol barat yang ada di Indonesia seperti Paddy’s Cafe dan Jimbaran di Bali, yang menjadi pusat wisatawan mancanegara, Kedubes Australia, hingga hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.

Haris lalu menjelaskan bahwa ukuran yang sama tidak bisa digunakan untuk menilai ideologi serta tujuan para teroris yang melakukan aksinya akhir-akhir ini, seperti yang dilakukan pada aksi teror di Surabaya, Mako Brimob Jawa Barat, Sidoarjo, dan Riau beberapa waktu lalu.

Baca: Tarif OK Otrip Belum Naik, KWK Keberatan

Ia mengakui ada pemahaman yang lebih keras dan tidak toleran yang dipegang oleh pelaku teror di Indonesia akhir-akhir ini.

“Ada perbedaan sifat di masa sekarang, yaitu pemahaman khawarij (menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah) serta ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memahami ajaran agama. Yaitu dengan menganggap yang bukan satu agama, bahkan satu agama namun beda aliran sebagai kafir,” paparnya.

“Kalau sudah seperti itu, ada pemahaman bahwa darah dan harta kaum yang tidak sealiran dengan mereka dianggap halal. Itu pemahaman yang masuk ke para teroris akhir-akhir ini,” imbuhnya.

Baca: Sandiaga Uno Ingin Politikus Berikan Komentar yang Mempersatukan

Bahkan, secara ekstrem Haris menyebutkan bahwa ada paham di kalangan teroris zaman kini yang menyebut negara Indonesia yang tak sesuai pandangan mereka, dianggap bentuk kekafiran.

“Oleh karena itu, serangan mereka sporadis dengan menyasar simbol negara seperti polisi. Ciri mereka juga melakukan segala cara untuk menegakkan ideologinya seperti mengebom masjid di Cirebon,” tuturnya.

“Kalau masjid saja dibom, maka tak heran kalau gereja jadi sasaran mereka. Padahal dalam syariat, tempat ibadah tak menjadi target,” tambahnya. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved