Aksi Terorisme

Undang-undang yang Tak Tegas Bikin Teroris Senang Beraksi di Indonesia

DIREKTUR Komunikasi BIN Wawan Hari Purwanto memaparkan pendapatnya mengapa hingga saat Indonesia terus diserang oleh teroris.

Undang-undang yang Tak Tegas Bikin Teroris Senang Beraksi di Indonesia
TRIBUNPEKANBARU/DODDY VLADIMIR
Terduga teroris di Mapolda Riau. 

DIREKTUR Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto memaparkan pendapatnya mengapa hingga saat Indonesia terus diserang oleh teroris.

Wawan Hari Purwanto mengatakan, teroris saat ini menyerang Indonesia karena undang-undang yang tidak tegas untuk menghukum maupun mengawasi pergerakan teroris.

"Justru beroperasi di sini kenapa? Karena kalau ke sana (negara lain) sudah ditangkap. Karena kalau di sini sudah longgar undang-undangnya," ujar Wawan dalam acara diskusi 'Never Ending Terorist' di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018).

Baca: BIN Minta Masyarakat Rangkul Mantan Teroris Agar Tak Kembali ke Kelompoknya

Dirinya mengatakan, sejak kejadian teror bom pada 2003, seharusnya pemerintah sudah tanggap untuk menegakkan hukum agar dapat menjerat teroris secara tegas.

Namun, karena belum ada undang-undang yang tegas, tahun ini Indonesia kembali diserang beruntun oleh aksi ledakan bom di beberapa kota.

"Kalau kita buka catatan di tahun 2003, sudah banyak saya katakan bahwa undang-undang kita mengandung kelemahan mendasar. Memungkinkan untuk diserang. Kita sekarang baru tersadar," tutur Wawan.

Baca: Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham Pastikan Bakal Bangun Lapas Khusus Narapidana Terorisme

Selain itu Wawan mengatakan, salah satu yang menciptakan teroris adalah adanya ideologi asing yang masuk dalam pribadi seseorang. Sehingga, sangat disayangkan Pancasila tidak lagi dimasukkan dalam pelajaran di sekolah.

"Bahkan Pancasila pun tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Dampak jangka panjangnya di sekolah tidak ada lagi ideologi Pancasila, dan akhirnya ideologi asing ini masuk. Ini semua bergelombang selalu mengatakan sekolah yang lama itu tidak pas, yang lama itu tidak bagus. Padahal yang lama semestinya kita pakai. Yang kurang biar diperbaiki," paparnya. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved