Breaking News:

Lembaga Kesejahteraan Keluarga dan Perlindungan Anak di Depok Dinilai Mandul

Kota Depok pernah mendapat predikat Kota Layak Anak tingkat Madya dan mempunyai motto Sahabat Keluarga.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota
Ilustrasi 

MARAKNYA kasus temuan mayat bayi dan pembuangan bayi di Kota Depok, dalam sebulan belakangan, dinilai sebagai bentuk mandulnya dua lembaga di bawah dinas terkait di Pemkot Depok, selama ini.

Dua lembaga yang dinilai tidak pro aktif dan mandul itu adalah Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Depok dibawah Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok, serta Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) dibawah Dinas Sosial (Dinsos) Kota Depok.

Hal itu dikatakan pemerhati perempuan dan anak, Novi Anggriani Munadi yang akrab disapa Nadi, kepada Warta Kota, Kamis (10/4/2018).

"Karena peristiwanya berulang dan terjadi di beberapa wilayah di Depok, atau tidak di satu wilayah saja, ini menandakan dua lembaga itu mesti pro aktif ke depannya, karena selama ini masih pasif," kata Nadi yang juga bendahara Taruna Merah Putih (TMP) tersebut.

Karenanya ia meminta Pemkot Depok serius dalam menangani dua lembaga itu agar keberadaannya tidak sekadar normatif saja.

"Apalagi keberadaan dua lembaga itu diatur dalam Perda Depok," katanya.

Nadi berpendapat idealnya kedua lembaga tersebut dapat melakukan upaya pencegahan hingga penanganan atas kasus maraknya pembuangan bayi di Depok.

"Caranya mulai dari pendekatan emosional sampai memberi pemahaman tentang hukum. Jadi ketika kebutuhan emosional terjaga, dan pemahaman rasionalnya terpenuhi, maka potensi seseorang membuang bayi dapat dicegah. Tentunya di sini ada peran keluarga juga di dalamnya," papar Nadi.

Nadi mengingatkan bahwa Kota Depok pernah mendapat predikat Kota Layak Anak tingkat Madya dan mempunyai motto Sahabat Keluarga.

"Kalau peristiwa ini terus berulang dan langkah penanganannya tidak progresif serta terukur, predikat dan motto Depok tersebut nantinya hanya politik gincu semata," kata politisi PDIP ini.

Apalagi kata Nadi, Kota Depok yang kini sudah berusia sembilan belas tahun, menuntut pemimpinnya bisa membawa Depok lebih maju melalui peran keluarga, perempuan dan anak dalam pembangunannya.

"Jika tidak, maka kemajuan masyarakat dan Kota Depok, tidak akan terealisasi," katanya.(bum)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved