Berubahnya Dimensi Sosial Masyarakat dengan Kehadiran Bandara Kertajati

Daerah seluas 138,36 km persegi dengan total penduduk sekitar 46.328 jiwa tersebut hanya berisi area persawahan tanpa ada tempat wisata.

Berubahnya Dimensi Sosial Masyarakat dengan Kehadiran Bandara Kertajati
Warta Kota
Berubahnya kehidupan sosial kemasyarakatan di Majalengka dan sekitarnya dengan kehadiran Bandara Kertajati. 

WARTA KOTA, MAJALENGKA -- Sedikit masyarakat Indonesia yang mengenal daerah Kertajati, Majalengka.

Hal itu cukup beralasan mengingat daerah seluas 138,36 km persegi dengan total penduduk sekitar 46.328 jiwa tersebut hanya berisi area persawahan tanpa ada tempat wisata untuk menarik pengunjung.

Setelah Presiden Joko Widodo melakukan proses groundbreaking Bandara Kertajati pada akhir 2015 lalu, nama Kertajati perlahan mencuat, ratusan pengembang dan investor mulai melirik area di sekitar bandara.

Begitu cepatnya perubahan dimensu sosial yang terjadi ditanggapi dengan sikap yang berbeda dari masyarakat.

Banyak dari mereka yang mendukung pembangunan demi pertumbuhan ekonominya, ada pula dari mereka yang memilih pergi lantaran pesimis atau bahkan 'minder'.

"Ya ada juga yang pergi, katanya nanti jadi ramai sama pendatang, mungkin kurang nyaman," ungkap Asep (42) warga Kertajati di lokasi, Rabu (25/4).

Tanah yang awalnya ditanami padi, dijual dengan harga tinggi. Lahan satu meter persegi di Jalan Kertajati-Kadipaten dipatok 5 kali lipat dari harga awal yang hanya Rp 200.000.

"Jadi, naik tanahnya sejak ada bandara. Apalagi katanya daerah di sekitar bandara mau ada Aerocity. Semeter sekarang bisa sampai Rp 1 juta," katanya.

Warga lain bernama Abdul Rahman yang berprofesi sebagai petani kini menganggur. Lahan 2.100 meter per segi diganti rugi sebesar Rp 327 juta lantaran hendak dibangun interchange menuju Bandara Kertajati.

"Dulu macul, sekarang ngopi-ngopi saja," seloroh Abdul.

Ia pun berencana untuk membangun tempat kontrakan dengan uang hasil ganti rugi tersebut. Hal itu dianggapnya lebih menguntungkan lantaran banyak pegawai Bandara Kertajati yang membutuhkan tempat tinggal.

"Masih belum ada kerjaan. Paling mau bikin kontrakan saja. Per bulab bisa dapat Rp 500-600 ribu, kan lumayan," katanya.

Sementara itu, Camat Kertajati Aminudin mengungkapkan harapannya terkait perubahan dimensi sosial yang akan dihadapi masyarakat sekitar hingga kawasan Aerocity dibangun sampai tahun 2045.

"Saya harap perubahan yang tidak bisa dihindari ini ditanggapi dengan sikap yang positif. Boleh berubah, tapi jangan sampai melupakan kearifan lokal. Boleh pesimis, tapi jangan minder. Kita juga harus ambil bagian dan berperan di rumah sendiri. Nanti jangan hanya jadi penonton dan duduk termangu melihat gedung dan pesawat," kata Aminudin.

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved