Yuk, Menikmati Yogya dari Puncak Suroloyo
YOGYAKARTA selalu menarik untuk dikunjungi. Ada banyak destinasi menarik yang bisa dieksplorasi di kawasan ini.
YOGYAKARTA selalu menarik untuk dikunjungi. Ada banyak destinasi menarik yang bisa dieksplorasi di kawasan ini.
Namun, jika ingin menikmati kota Yogyakarta dari ketinggian, datanglah ke Puncak Suroloyo.
Puncak Suroloyo berada di Pegunungan Menoreh, Dusun Keceme, Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Panorama dari ketinggian bernama Puncak Suroloyo ini membangkitkan kekaguman pada Ilahi akan keindahan bumi.
Sebagai puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh, Puncak Suroloyo sudah terkenal sejak lama.
Selain karena panorama, tempat ini jadi lokasi orang terdahulu mencari ketenangan batin.
Tradisi Keraton Yogyakarta di Suroloyo sejak zaman leluhur di puncak ini, membuat Suroloyo makin diminati.
Salah satu tradisinya adalah Jamasan Pusaka atau mencuci pusaka dalam rangka menyambut bulan Muharram atau istilah Jawa, 1 Suro.
Semasa jemasan Suroloyo akan penuh sesak manusia mencari berkah.
Dengan latar belakang itu, Puncak Suroloyo berkembang menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kulon Progo.
Wisatawan bisa menikmati panorama dari tiga gardu pandang yang masing-masing berdiri di tiap gundukan bukit dengan nama sendiri-sendiri.
Selain Puncak Suroloyo, ada Puncak Sariloyo, dan Puncak Kaedran. Semuanya terhubung dengan jalan aspal maupun tangga semenisasi.
Terdapat patung Punakawan dan ukiran pewayangan pada pelataran parkir seolah menyambut kedatangan wisatawan. Tokoh-tokoh pewayangan itu mengentalkan suasana sakral.
Wisata religi
Keluarga keraton kerap ke sana. Para pemimpin negeri, kepala daerah dari berbagai tempat, juga sering datang ke puncak ini. Konon, mereka mencari ketenangan batin.
Windarno, 33 tahun, warga setempat bersaksi, setidaknya Megawati dan SBY pernah ke sana.
“Puncak Suroloyo itu adalah kenangan napak tilas Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ia semedi di Puncak Suroloyo itu. Pejabat lain, bahkan pemimpin negeri ini seperti Soekarno, Soeharto, Megawati, dan SBY, pernah ke sini. Apalagi saat mau pemilu, tentu ramai,” kata Windarno, seperti dikutip KompasTravel, Jumat (23/3).
Itulah mengapa, sebenarnya puncak Suroloyo ini dianggap lebih cocok sebagai destinasi wisata religi. “Sebenarnya selain wisata sejarah, di sini lebih pada wisata religi,” kata Windarno.
Suroloyo berarti berani mati, dalam bahasa Jawa. Siapa pun yang mendaki, memang harus memiliki keteguhan hati karena tantangan terbesarnya adalah jalan ekstrem menuju puncak.
Sebagai contoh, untuk ke Suroloyo maka wisatawan bisa lewat 2 pintu. Jalan mana pun yang dipilih, mereka mesti menaiki lebih 200 anak tangga hingga terasa loyo saat tiba di atas.
Tapi panorama dari puncak sungguh tidak mengecewakan. Kelelahan akan diganjar pemandangan alam indah di lembah, seperti Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Barat. Gunung Merapi dan Merbabu di Timur.
Candi Borobudur di Utara terlihat mungil. Bahkan, pantai di bagian Selatan juga kelihatan dari ketinggian itu.
“Borobudur saya zoom mentok pakai HP. Kelihatan jelas,” kata Windarno.
Pemandangan terbaik bisa didapat pada saat subuh, pagi hari, dan sore hari.
Saat itu, wisatawan bisa menyaksikan awan turun, ataulah matahari yang lembayung saat mau terbit maupun terbenam. Foto-foto di situ akan sangat indah kelihatannya.
Dua jalur
Untuk datang ke komplek Suroloyo, tersedia dua jalur yang bisa dipilih sebelum menuju Puncak Suroloyo. Pertama adalah rute Jalan Godean - Sentolo - Kalibawang dan rute kedua melalui Jalan Magelang - Pasar Muntilan - Kalibawang.
Untuk mencapai puncak Suroloyo, harus melewati perjalanan yang naik turun dengan kelokan tajam serta tanjakan yang curam.
Pergi ke sana, kita tentu harus memperhatikan alat transportasi dan perbekalan. Berkendara dengan mobil sebenarnya bisa sampai ke sana.
Bila berkendara dengan roda dua maka motor harus benar-benar fit, terlebih rem karena tanjakannya curam dan berat. Jalan menuju Suroloyo sejatinya beraspal halus, namun dengan tanjangan securam itu, semua pengendara harus serba hati-hati.
Kopi Suroloyo
Mereka yang baru pertama kali ke sana pasti akan menganggap puncak itu sangat jauh.
Karenanya perbekalan memang harus dibawa, tapi utamanya untuk menikmati di puncak Suroloyo.
Masuk ke komplek wisata cukup membayar tiket Rp 5.000 per orang. Terdapat tempat parkir luas dan pusat jajanan yang sesuai kantong dan terjangkau.
Jangan lupa, sempatkan menyeruput Kopi Suroloyo yang melegenda itu. Rasanya tidak kalah dengan Kopi Tiam dan Teh Tarik melayu.
“Buah kopi langsung dari kebun-kebun rakyat, tapi bukan kebun hamparan. Kami roasting sendiri,” kata Windarno.
Sebenarnya ada cara yang berbeda untuk menikmati Suroloyo. Datanglah pada malam hari. Pemandangannya tidak akan kalah indah dibanding saat hari terang.
Tidak sedikit yang datang ke sana pada saat malam. Pemandangan kelap kelip lampu kota bisa terlihat dari Suroloyo. Memang suasana semakin hening dan khusyuk. Sekhusyuk orang mau bertapa.
“Malam hari juga selalu ada yang ke sini. Datang jam 22.00 dan pulang jam 03.00,” kata Windarno.
Bahkan, masih banyak orang yang mampir ke sana untuk berdoa bersama. Mereka menikmati pertemuan antar golongan, ras, dan agama. Mereka berbagi kasih dan mesra sebagai sesama manusia. (Dani Julius Zebua/ron)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180424menikmati-yogya-dari-puncak-suroloyo_20180424_172437.jpg)