Banjir Rendam Cibadak Bandung, Ngadiman: Rumah Saya Jebol, Kulkas Hilang
Banjir tersebut diduga disebabkan proyek tol air di Jalan Pagarsih. Sebab, sejak ada tol air, debit air banjir semakin deras.
NGADIMAN (60), warga Gang Tresna RT 02 RW 07, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, hanya bisa termenung melihat rumahnya yang jebol diterjang banjir, Sabtu (21/4/2018) malam.
Ngadiman bercerita, selepas maghrib ia mendengar gemuruh air dari Sungai Citepus yang tepat berada di samping rumahnya. Ia sudah berfirasat banjir akan datang. Sebab, daerah itu memang kerap jadi langganan banjir.
Namun, ia tak menyangka jika debit air begitu deras. Sadar bahaya mengancam, ia mengajak istri dan cucunya untuk segera naik ke lantai dua rumah tanpa sempat menyelamatkan harta benda.
"Saya dengar gemuruh. Bruk, pas dilihat tembok ruang tamu saya jebol. Rumah jebol, kulkas hilang terbawa banjir," ucap Ngadiman saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Sabtu malam.
Ngadiman sempat mengajak untuk melihat kondisi rumahnya. Hampir seluruh perabotan rumah porak poranda disapu banjir. Termasuk sepeda motor kesayangannya.
"Kamar, semua perabotan di bawah habis. Pasrah saja, mau bagaimana lagi," ucap Ngadiman dengan nada lirih.
Fifi (45), tetangga Ngadiman, juga merasakan dampak yang sama. Beruntung, bagian dapurnya yang berada di samping sungai tak ikut ambruk diterjang air. Namun, hampir seluruh barang-barangnya rusak.
"Airnya semeter lebih, semua barang hancur semua. Karena airnya cepat naik saya nggak sempat selamatin harta benda. Saya hanya bawa TV karena itu masih dicicil, belum lunas," tutur Fifi.
Dampak Proyek Tol air Pagarsih
Banjir di Gang Tresna kali ini memang tergolong besar. Bekas genangan air di tembok rumah warga memperlihatkan ketinggian air lebih dari 1,5 meter.
Sutisna (45) warga lain menuturkan, banjir tersebut diduga disebabkan proyek tol air di Jalan Pagarsih. Sebab, sejak ada tol air, debit air banjir semakin deras.
"Seumur-umur baru kali ini banjir besar. Ini karena tol air. Dulu, air Citepus itu tertahan di Jalan Pagarsih. Sekarang sungainya diperlebar agar air tak menggenang di jalan, tapi kita jadi korban di sini," tuturnya.
Fifi pun mengamini pernyataan Sutisna.
"Ini gimana sih pemerintah. Kok bikin proyek ngga melihat warga ke sini. Seharusnya debit air Citepus ini dipecah, jangan dilimpahin ke sini semua. Kalau sudah begini siapa yang mau tanggung jawab," keluhnya. (Kontributor Bandung, Dendi Ramdhani)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rumah Saya Jebol, Kulkas Hilang Diterjang Banjir...."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180422-banjir-cibadak-bandung_20180422_052624.jpg)