Tiga Tinta Emas Soekarno Jadi Warisan Dunia

Pameran bertema Tiga Tinta Emas Abad 20 digelar di Auditorium LIPI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 19-22 April 2018.

Tiga Tinta Emas Soekarno Jadi Warisan Dunia
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri ketika memberikan sambutan dalam pameran bertema Tiga Tinta Emas Abad 20, Peluncuran buku berjudul Live & Let Live Asia Africa Unity in Diversity dan Penyerahan Sertifikat MoW UNESCO 2017 di Auditorium LIPI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Selasa (17/4/2018) siang. 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU-63 tahun berlalu sejak Konferensi Asia Afrika pertama kali digelar, selama lebih dari setengah abad kemerdekaan puluhan negara Asia-Afrika pun tercipta.

Seluruhnya terangkum dalam pameran bertema Tiga Tinta Emas Abad 20 di Auditorium LIPI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Selasa (17/4/2018) siang.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri mengingat jelas saat pertemuan antar bangsa itu terjadi di Gedung Merdeka Bandung, Jawa Barat pada tanggal 18 April hingga 22 April 1955 silam.

Tepat ketika dirinya berusia delapan tahun, 29 negara Asia-Afrika yang baru merdeka berkumpul bersama menyepakati Dasa Sila Bandung.

Kesepakatan antar negara Asia-Afrika terkait pengaruh negara barat itu berujung pada Gerakan Non Blok di Beograd pada tahun 1961.

Kesepakatan untuk tidak berpihak kepada Blok Timur ataupun Blok Barat itu pelopori lima pemimpin dunia, antara lain Presiden Republik Indonesia Soekarno, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Ghana Kwame Nkrumah.

"Pada abad 20, ada tiga peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia. Saya berusia 8 tahun saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, berusia 13 tahun saat Pidato Bung Karno di PBB 1960, berusia 14 tahun saat Gerakan Non-Blok Pertama diadakan di Beograd 1961. Saya adalah delegasi termuda," ungkap Megawati dalam sambutannya membuka pameran bertema Tiga Tinta Emas Abad 20, Peluncuran buku berjudul Live & Let Live Asia Africa Unity in Diversity dan Penyerahan Sertifikat MoW UNESCO 2017 di Auditorium LIPI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Selasa (17/4/2018).

"Konfrensi Asia-Afrika diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah, yaitu Dasa Sila Bandung. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika," tambahnya.

Mengenang jasa para pendahulu, dirinya secara langsung berterima kasih kepada UNESCO yang telah mengarsipkan dokumen Konferensi Asia-Afrika sebagai Memory of The World pada tanggal 9 Oktober 2015.

Sebab, Konferensi Asia-Afrika menjadi semangat gotong-royong dan solidaritas, prinsip musyawarah untuk mufakat, kesepakatan untuk menentang segala bentuk penjajahan, serta persatuan dalam keberagaman.

'Live and Let Live Asia Africa Unity in Diversity', seperti yang disampaikan dalam pidato Bung Karno dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 katanya kini diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO. Sehingga arsip Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke XV dan Arsip GNB Pertama diyakinkannya, sangat layak untuk menjadi Memory of The World.

"Jelas bukan hanya Indonesia, tetapi dunia, membutuhkan Arsip KAA, Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari 'Tiga Tinta Emas abad 20' tersebut adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan," jelasnya.

"Bung Karno telah mengingatkan bahwa semua warga bangsa saling terkoneksi dalam menghadapi problematika abad 21. Ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat," tutupnya menambahkan. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved