Alasan di Balik Penutupan Lahan Eks Beton

PT Padi Mas lewat kuasa hukumnya justru melaporkan PT KAI dengan sangkaan merusak rumah dan penyerobotan.

Alasan di Balik Penutupan Lahan Eks Beton
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ilustrasi suasana di kawasan Tanah Abang. 

WARTA KOTA, GAMBIR -- Penutupan lahan Eks Beton PT Padi Mas atau lebih dikenal dengan nama bongkaran disebabkan sejumlah alasan.

Tidak hanya putus kontrak dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) selaku pemilik lahan, PT Padi Mas selaku penyewa mengadukan adanya dugaan penyerobotan lahan imbas dari penertiban yang dilakukan PT KAI beberapa waktu lalu.

Permasalahan tersebut diungkapkan Senior Manager Asset Daerah Operasi (Daop) 1 DKI Jakarta, yang berujung pada penutupan lahan yang diketahui merupakan area berjualan ratusan pedagang Pasar Tasik sejak era Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pada tahun 2012 silam.

Alasannya karena lahan masih dalam penyelidikan pihak Kepolisian.

"Jadi, awalnya itu karena putus kontrak, PT Padi Mas selaku pihak ketiga tidak menyelesaikan pembayaran seperti dalam perjanjian, sesuai ketentuan, Surat Peringatan satu sampai tiga kami layangkan, tapi karena tidak ada penyelesaian, penertiban kami lakukan. Asset kami bersihkan," ungkapnya dihubungi pada Kamis (12/4/2018).

Namun, lanjutnya, pihak PT Padi Mas lewat kuasa hukumnya justru melaporkan PT KAI dengan sangkaan merusak rumah dan penyerobotan.

Kasus tersebut dilaporkan kepada pihak Kepolisian Sektor Tanah Abang yang kini kasusnya sudah ditingkatkan menjadi penyidikan.

"Karena itu lahan ditutup garis polisi, aktivitas di dalam area semuanya ditiadakan, termasuk imbasnya kepada pedagang. Hal yang harus dipertanyakan dalam kasus ini sebenarnya adalah laporan pihak Padi Mas, karena tidak mendasar, ibaratnya kehilangan sepeda motor, hal pertama kali yang ditanyakan adalah bukti kepemilikan, sementara rumah yang dijadikan dasar keberatan itu ada di dalam aset kami," ungkapnya.

Walau begitu, diyakinkannya konflik lahan seluas 26 hektar itu kini dalam tahap penyelesaian, apalagi lahan bakal dijadikan kawasan terpadu Tanah Abang mengacu pada sistem Transit Oriented Development (TOD).

Sejalan dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu, seluruh area kini dibersihkan sebelum pembangunan dilakukan.

"Desainnya sudah dikonsepkan, memang belum final tapi sudah dalam tahap penyelesaian. Karena itu, aset kita persiapkan, jadi begitu mau dicangkul (bangun) lahan sudah siap," ungkapnya.

Lahan yang berada di Jalan Jati Bunder, tepatnya seberang Pasar Blok G Tanah Abang itu akan menjadi pusat pertemuan antara stasiun, terminal serta rumah susun dan pasar.

Sehingga aktivitas seluruhnya akan melalui jembatan, termasuk penempatan pedagang di sepanjang sky bridge tang terbentang mulai dari Stasiun Tanah Abang hingga Pasar Blok G Tanah Abang.

"Semuanya terintegrasi, jadi macet yang ada sekarang itu ke depannya sudah tidak ada lagi, pedagang-pejalan kaki semuanya lewat jembatan, sementara transportasi semuanya terintegrasi di TOD Tanah Abang," katanya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved