Antara Hotman Paris Dan Kedai Kopi Johny
Sejak dipopulerkan oleh Hotman Paris sekitar enam bulan yang lalu, nama Kedai Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara, semakin melejit.
Sejak dipopulerkan oleh Hotman Paris sekitar enam bulan yang lalu, nama Kedai Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara, semakin melejit.
Kedai kopi yang berada di Jalan Kelapa Kopyor Raya ini berdiri pada tanggal 3 Juni 2009 dengan nama Kedai Kopi Kwang Koan.
Namun, setelah dipopulerkan oleh pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, Kedai Kopi Kwang Koan perlahan lebih dikenal dengan sebutan Kopi Johny.
"Awalnya bukan Kopi Johny tapi Kwang Koan. Dalam perjalanannya, mungkin secara pelafalan agak susah orang sebut. Pak Hotman populerkan nama Kopi Johny baru kurang lebih enam bulan belakangan ini, sehingga orang kenal dengan sebutan Kopi Johny," kata Johny Poluan, kepada Warta Kota, Minggu (8/4/2018).
Sebelum Kwang Koan populer dengan sebutan Kopi Johny, Hotman Paris sudah menjadi salah satu pelanggan tetapnya.
Baca: Hotman Paris Ngopi Bareng dengan Nafa Urbach dan Cita Citata di Kopi Johny, Bertemu dengan Ketua DPR
"Sebelum itu, Pak Hotman sudah langganan. Dia termasuk salah satu regular guest saya, rutin hampir setiap hari," ujarnya.
Banyak publik figur dari kalangan artis dan penyanyi hingga politikus bahkan warga biasa yang datang ke Kopi Johny atas undangan Hotman Paris. Di sini, pengacara yang identik dengan sebutan 'buaya cinta' itu memberikan pelayanan bantuan atau konsultasi hukum gratis bagi siapa saja yang membutuhkan. Mereka tidak hanya datang dari wilayah ibukota tapi juga dari berbagai penjuru daerah yang ada di Indonesia.
Perlahan, Kedai Kopi Johny semakin terkenal. Pemilik pun, Johny Poluan, kecipratan rejeki dengan semakin banyaknya jumlah pelanggan yang datang ke kedai kopinya.
"Boleh dibilang begitulah, pelanggan memang ada yang datang dan ada yang pergi. Akan tetapi yang datang lebih banyak. Dengan viralnya Pak Hotman saya terimakasih, ya dong? karena dengan beliau pengunjung tambah banyak dan omset jadi naik, kami berdua cuma sebatas teman. Cuma diantara kami ada chemistry, ada kecocokan," imbuhnya.
Oleh sebab itu, Johny Poluan memberikan layanan eksklusif bagi Hotman Paris yang telah melambungkan bisnis kedai kopinya.
"Karena dia juga kan publik figur tiba-tiba kok memilih kopi saya. Saya juga perlakukan dia sebagai tamu istimewa. Dia datang saya siapkan parkir. Masa iya dia datang cari parkir sana sini kayak orang biasa. Saya utamakan dong. Dia minum bayar loh, dia bukan gratis," terangnya.
Bahkan, sejak enam bulan yang lalu, omzet Kedai Kopi Johny melonjak sekitar 20-30 persen.
"Karena harga kopi saya tidak mahal paling omzet naik 20-30 persen. Kopi cuma Rp 12.000, mau naik gimana. Orang banyak datang cuma pesan es teh 5 ribu perak. Yang penting kita di sini happy-happy. Disamping saya juga cari duit," ungkapnya.
Tidak hanya Hotman Paris, para komunitas yang singgah dan menjadi pelanggan tetap Kopi Johny juga mendapatkan perlakuan istimewa dari sang pemilik kedai kopi.
"Kayak Pak Hotman di meja itu ada komunitas sendiri mereka. Kayak burung walet kalau udah hinggap disini, disini terus dia. Ada yang di sana, nggak pindah-pindah. Tadinya nggak kenal jadi kenal. Ada komunitas sepeda dan ada komunitas pejalan kaki," jelasnya.
Untuk mempertahankan pelanggannya, Johny Poluan sesekali turut bergabung dengan para tamunya, untuk sekadar berbincang ringan sambil menikmati secangkir kopi.
"Saya sebagai pemilik juga berikan sentuhan psikologi. Saya kalau tidak sibuk, saya duduk bareng ngopi-ngopi, ya dong? kita harus ciptakan suasana bersahabat," katanya.
Saat ini, Kedai Kopi Johny telah berhasil melebarkan sayapnya, terbukti dengan semakin bertambahnya jumlah gerai yang ada di wilayah Jakarta.
"Totalnya ada 8 gerai. 6 milik saya sedangkan sisanya 2 gerai franchise, tapi bukan franchise murni dan itu sebelum diviralkan Pak Hotman. Saya kasih teman, di Sunter dan Mangga Besar," katanya.
Namun sayang, kini sang pemilik tidak lagi membuka kesempatan untuk franchise Kedai Kopi Johny meskipun banyak permintaan dari masyarakat dan rekan bisnis Johny Poluan.
"Setelah Pak Hotman viral saya close. Saya malu sekali, beban moral besar sekali, siapa yang di depan yang promosi, Pak Hotman, kok saya ambil kesempatan saya main jual saya nggak mau, saya close, saya tutup. Banyak orang krung-krang krung-krang orang mau minta franchise saya nggak mau, duit berapa tapi Pak Hotman nanti kan gak enak namanya," tegasnya.
Johny Poluan menambahkan, saat ini Kopi Johny dan Hotman Paris ibarat dua sisi mata uang yang berbeda, tapi tidak dapat dipisahkan.
"Dia juga sudah klarifikasi Kopi Johny bukan punya dia dan saya juga sudah klarifikasi bahwa salam Kopi Johny bukan punya saya. Kopi Johny dan salam Kopi Johny ibarat dua sisi mata uang, tidak terpisahkan. Tidak mungkin dia salam Kopi Johny di Kopi Udin," jelasnya.
Kedai Kopi Johny buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Khusus Sabtu, Minggu dan tanggal merah, Kedai Kopi Johny hanya melayani pelanggan sampai pukul 13.00 WIB. Untuk gerai yang berada di Food City Kelapa Gading, terdapat pengecualian karena mengikuti persyaratan dan peraturan dari pengelola mall. Di Food City mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB.
"Sabtu, Minggu sama tanggal merah saya stand by di sini (Kopi Johny Kelapa Kopyor Raya). Karena saya cuma sampai jam 1 siang. Saya tahu orang setelah itu ke mall gak mungkin ke second road. Setelah mereka (pelanggan tetap) pergi jam 9 jam 10 saya keliling pergi ke Food City, saya pergi ke Pecenongan, saya pergi ke Serpong, itu (saya lakukan) Senin sampai Jumat," imbuhnya.
Dalam waktu dekat, Johny Poluan akan menutup satu kedai kopi miliknya yang berada di Taman Jogging Kelapa Gading, Jakarta Utara.
"Nanti saya ada rencana buka jam 6 pagi sampai 11 malam karena ada satu cabang di taman jogging saya mau close karena trennya tidak ada peningkatan. Saya jual taste bukan produk. Orang kalau gak cocok gak bakal balik. Di situ saya lihat agak kurang," jelasnya kepada Warta Kota.
Awalnya, Kedai Kopi Johny menggunakan tiga jenis kopi untuk melihat dan menilai selera pasar. Ketiga jenis kopi tersebut yakni Kopi Lampung, Kopi Bali dan Kopi Toraja. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 2-3 bulan saja, Johny Poluan akhirnya memutuskan untuk menggunakan Kopi Toraja.
"Kopi sekarang bukan lagi bicara Arabica atau Robusta tapi orang tanya kopi asal mana. Kopi Aceh, Kopi Lampung, Toraja, Sidikalang, dan Wamena sekarang lagi naik daun, ada Kopi NTT. Awalnya saya pakai 3 jenis kopi, Lampung, Bali dan Toraja, saya ikut pasar minta Toraja," ungkapnya.
Ia mengaku, mulai dari proses pemilihan bahan baku sampai roasting ia lakukan sendiri. Menurutnya, kunci kopi ada di roasting.
"Kopi pada dasarnya punya kandungan asam. Bagaimana kita bisa memadukan kadar asam, asin sama manis. Dia roasting kopi yang bagaimana? Sudah setahun belum? Kopi makin lama makin melepaskan asam, makin lama makin bagus. Aromanya keluar," tuturnya.
Johny Poluan sedikit kecewa ketika bercerita mengenai anak semata wayangnya yang sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan bisnis yang telah ia bangun.
"Kopi adalah bisnis keluarga. Saya tinggal nerusin dan saya adalah generasi kedua dan mungkin yang terakhir. Anak saya nggak mau tapi saya nggak tahu kalau terdesak masalah ekonomi. Generasi sekarang kan banyak lagunya. Bapak saya dulu awalnya bangun kedai kopi di Makassar," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/johny-poluan_20180408_155304.jpg)