Selasa, 19 Mei 2026

Anak Penganiaya Bapaknya Pernah Sakit Jiwa

Anak yang menganiaya bapaknya sendiri di Bekasi ternyata pernah dirawat di rumah sakit jiwa.

Tayang:
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA/FITRIYANDI AL FAJRI
Rumah lokasi penganiayaan seorang bapak oleh anaknya sendiri di Bekasi. 

WARTA KOTA, BEKASI-Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kota berencana bakal memeriksa kejiwaan Dede Solihin (35), pemuda yang menganiaya bapak kandungnya sendiri, Djohar (72) di rumahnya.

Pemeriksaan kejiwaan Dede dilakukan guna memperkuat keterangan keluarganya bahwa dia pernah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa di Bandung pada 2014 lalu.

"Hari ini kita bawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur untuk mengetahui lebih dalam tentang kejiwaan pelaku," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestro Bekasi Kota AKBP Dedy Supriadi pada Minggu (8/4/2018).

Seorang anak tega menganiaya bapaknya sendiri di Perumahan Duta Kranji, Jalan Cendrawasih Raya B 336, RT 04/07, Kecamatan Bekasi Barat pada Sabtu (7/4) siang.

Kondisi Djohar (72) sampai kritis sehingga masih di Rumah Sakit Ananda Bekasi pada Sabtu (7/4) malam.

Sementara pelaku bernama Dede Solihin (35) telah diamankan penyidik di Mapolrestro Bekasi Kota usai melampiaskan amarahnya.

Dedy mengatakan, pelaku terlihat linglung saat diinterogasi penyidik. Jawaban yang diucap pelaku juga tidak sesuai dengan pertanyaan penyidik.

Bahkan sebelum memukul Djohar menggunakan sebuah balok, Dede melihat sang ayah sedang memarahinya.

"Dia bilang saat kejadian, bapaknya sedang memarahinya, padahal saat itu korban sedang tidur di ranjang," ujar Dedy.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, kata Dedy, kasus penganiayaan ini baru kali pertama terjadi. Sebelumnya, korban hanya meluapkan emosi lewat kata-kata.

"Biasanya hanya marah-marah saja, tapi kemarin memuncak sampai mengambil balok di teras rumah dan memukul kepala bapaknya," jelasnya.

Dia menambahkan, Dede merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan belum menikah. Selama ini, dia tinggal berdua dengan ayahnya.

Sementara kakak pertamanya tinggal bersebelahan dengan rumah korban.

"Kakak ipar pelaku yang mendengar suara gaduh di rumah mertuanya, langsung bergegas ke sana dan menahan pelaku," katanya.

Sejauh ini, kata dia, korban yang merupakan pensiunan polisi ini sudah siuman. Dia bisa diajak bicara ringan oleh penyidik seputar kejadian tersebut. "Tapi kondisinya masih butuh perawatan tim medis," ucapnya.

Kakak ipar pelaku, Rahman menambahkan Dede sempat dirawat di rumah sakit jiwa selama delapan bulan.

Setelah itu dia minta pulang ke rumah karena tidak betah tinggal di sana. Dokter memperbolehkan pulang dengan catatan, Dede harus mengonsumsi obat penenang guna meredam amarah pelaku yang kerap datang mendadak.

"Namun sejak tiga bulan yang lalu, dia berhenti mengonsmsi obat tersebut sampai akhirnya ngamuk melukai bapak. Dia tidak mau minum obat karena merasa sudah sehat," kata Rahman.

Sementara itu, Khairin warga sekitar mengaku tidak begitu mengenal sosok Dede. Selama ini Dede lebih senang mengurung diri di rumah dan tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga sekitar.

"Keluar rumah hanya beli rokok saja, setelah itu masuk ke dalam lagi. Kalau naik motor juga selalu mengebut," kata Khairin.

Dia mengaku, sempat mendengar kabar bahwa Dede mengalami gangguan kejiwaan. Namun dia tidak mengetahui penyebabnya.

"Orangnya pendiam dan nggak pernah ngobrol dengan tetangga," ungkapnya.

Tetangga lainnya, Danang mengaku terkejut dengan penganiayaan yang dilakukan Dede. Sebab selama ini dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang aneh.

"Orangnya memang sering di dalam rumah," katanya.

Meski sudah pensiun, namun Djohar memiliki usaha fotokopi di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Terkadang, kata dia, Djohar ke tokonya untuk mengecek usahanya tersebut.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved