Breaking News:

Ketua Perdossi: DSA Itu Alat Diagnosa, Bukan Temuan dr Terawan

“DSA itu sudah ada sejak tahun 1917an. Jadi tidak benar, jika dikesankan dr Terawan yang menemukannya.” ujarnya.

Editor: Murtopo
m16/Anggie Lianda
KEPALA RSPAD dr Terawan Agus Putranto mengklarifikasi isu pemecatan dirinya dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam jumpa pers, Rabu (4/4/2018). 

WARTA KOTA, PALMERAH --  Rekomendasi keras Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang meminta PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) segera memberhentikan sementara (selama setahun ) dr Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI terus menuai kontroversi setelah muncul ke ruang publik.

Seperti dilansir ceknricek.com, saat ini munculnya dua kubu yang belakangan makin lantang bersilang pendapat di ruang publik.

Kubu yang mendukung dr Terawan diwakili antara lain oleh Usahawan Aburizal Bakrie dan pakar hukum Prof Mahfudz MD.

Kubu ini gencar memberikan testimoni kebenaran terapi pengobatan dr Terawan, yang juga anggota Tim Dokter Kepresidenan itu.

Sementara kubu yang berseberangan diwakili para dokter penegak etik yang dipimpin Prof DR Prijo Sidipratomo, ketua umum MKEK dan para sejawatnya sesama pengurus MKEK.

Mereka didukung oleh sejumlah profesor lain. Diantaranya profesor yang memimpin perhimpunan dokter ahli.

Sebutlah, misalnya, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) yang dipimpin Prof DR Hasan Machfoed.

Tokoh ini sejak awal secara konsisten memang terus menolak dan menggugat metode terapi “cuci otak” yang diterapkan dr Terawan Agus Putranto untuk mengatasi stroke.

“Di seluruh dunia (kedokteran) tidak ada itu terapi “cuci otak” yang memodikasi DSA (Digital Substraction Angiogram),” kata Prof Hasan Machfoedz kepada ceknricek.com.

Neurolog senior Universitas Airlangga ini, terus mengulang pandangannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved