Kasus First Travel

Hari Ini Jaksa Panggil 21 Saksi di Sidang Lanjutan First Travel, Empat di Antaranya Ahli

Sidang lanjutan kasus skandal biro perjalanan umrah First Travel, akan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Rabu (4/4/2018) hari ini.

Hari Ini Jaksa Panggil 21 Saksi di Sidang Lanjutan First Travel, Empat di Antaranya Ahli
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Pasangan suami istri bos First Travel usai mengikuti sidang, Senin (2/4/2018). 

WARTA KOTA, DEPOK - Sidang lanjutan kasus skandal biro perjalanan umrah First Travel, akan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Rabu (4/4/2018) hari ini.

Sidang dijadwalkan dimulai pukul 09.00, dan agendanya masih mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Heri Jerman, Koordinator Tim JPU dalam kasus ini menuturkan, pihaknya memanggil 21 saksi yang tersisa, untuk hadir dalam sidang kali ini.

Baca: Pembuatan Kapal Jenazah Cepat, Proses Administrasinya yang Lama

Mereka di antaranya adalah vendor dan agen First Travel serta beberapa karyawan First Travel. Selain itu, kata dia, dari 21 saksi yang dipanggil, ada empat saksi ahli yang coba dihadirkan JPU dalam sidang kali ini.

"Semoga semua saksinya datang semua. Belum tahu berapa yang bisa hadir, kita lihat saja nanti," kata Heri.

Anggota TIm JPU Sufari mengatakan, keempat saksi ahli yang coba dihadirkan JPU dalam sidang kali ini terdiri dari akademisi, pelaku perbankan, dan instansi terkait analisis dan transaksi keuangan.

Baca: Ceu Ogah Cantik Siap Tilang Pelanggar Lalu Lintas di Bandung

Mereka akan diminta keterangannya terkait dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan ketiga terdakwa Bos First Travel, yakni pasangan suami istri (pasutri) Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, serta adik Anniesa, Kiki Hasibuan.

"Jadi kurang lebih ada empat saksi ahli, untuk membuktikan adanya tindak pidana pencucian uang di kasus ini," jelas Sufari.

Dari kesaksian para saksi ahli, kata dia, diharapkan semakin mempertegas adanya TPPU yang dilakukan tiga terdakwa selaku bos First Travel.

Baca: ICW: KPK Jangan Hanya Bongkar Kasus KTP Elektronik, tapi Juga Harus Menuntaskan

"Sebab, pencucian uang di kasus ini ada beberapa bentuk. Ada yang berbentuk fisik dan aliran dana," cetus Sufari.

Dalam kasus ini, ketiga terdakwa dijerat pasal penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang, yang ancaman hukumannya mencapai 20 tahun penjara.

Para terdakwa diduga telah menelantarkan 63.310 calon jemaah umrah yang gagal berangkat ke tanah suci, meski telah membayar lunas ke First Travel. Mereka berasal dari seluruh Indonesia. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 905,33 miliar. (*)

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved