Rantai Pemasok Komoditas di Jakarta Dipangkas, PD Pasar Jaya dan Food Station Dapat Akses Langsung

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, rantai pasok akan dipangkas demi menstabilkan harga pangan di DKI Jakarta.

Rantai Pemasok Komoditas di Jakarta Dipangkas, PD Pasar Jaya dan Food Station Dapat Akses Langsung
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ilustrasi pedagang melayani pembeli di los sembako dan sayuran. 

WARTA KOTA, PALMERAH---Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, rantai pasok akan dipangkas demi menstabilkan harga pangan di DKI Jakarta.

"Kata kuncinya adalah kami potong rantai pasok yang terlalu panjang selama ini," kata Amran baru-baru ini.

Baca: Kapal Baru Milik DKI Bisa Angkut Sembako 200 Ton ke Pulau Seribu

Amran mengatakna, selama ini rantai pasok komoditas pangan bisa mencapai hingga sembilan jenjang mulai dari kelopok tani sampai ke tangan konsumen.

Padahal dalam satu jenjang saja ada keuntungan yang bisa diperoleh hingga sekitar 10 persen.

"Kalau ada 10 kali pindah, berarti (untung) 100 persen. Contohnya saja bawang yang disparitas harganya mencapai 300 persen di mana harga di lapangan hanya Rp 10.000 tapi kalau di kota sampai Rp 30.0000-Rp 40.000. Ini yang akan kami potong," katanya.

Baca: Stok Gula Selama Ramadan dan Lebaran Diklaim Cukup Meski Harganya Tidak Bisa Dipatok

Khusus untuk Jakarta yang telah menyepakati komitmen harga pangan stabil selama Ramadan-Idul Fitri, Amran mengatakan, pihaknya akan memberikan akses langsung dari produsen di daerah ke PD Pasar Jaya dan Food Station Tjipinang Jaya.

"Kami siapkan daerah-daerah produsen bawang merah, produsen cabai, beras itu untuk langsung ke PD Pasar Jaya dan Food Station. Ini kami langsung potong. Itu operasionalnya," kata Amran seperti dilansir Antaranews.com.

Amran mengatakan, pemutusan rantai pasok akan dimulai Maret ini, tanpa perlu menunggu Mei saat menjelang Ramadan.

Baca: Pemerintah Siap Mengeluarkan Beras Sebanyak 400.000 Ton

Hal itu dilakukan sebagai persiapan yang lebih awal menyambut Ramadan dan Idul Fitri yang menurut dia cenderung mengalami kenaikan harga.

Padahal pasokan pangan saat menjelang Ramadan dan Idul Fitri dipastikannya akan dapat memenuhi kebutuhan karena Mei sudah memasuki puncak produksi yang diharapkan mendorong pasokan pangan hingga 30 persen-40 persen.

"Sebenarnya saat Ramadan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Tapi secara psikologi memang kebanyakan harganya cenderung naik. Kami sekarang ubah mindset kalau Ramadan ini harga stabil," kata Amran.

Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved