Dari 29.000 hektare Luas Area DAS hulu Ciliwung-Cisadane, 10.000 hektare Jadi Hutan Beton

Struktur tanah di kawasan puncak yang menjadi bagian dari DAS hulu Ciliwung-Cisadane dikenal gembur dan mudah tergerus air.

Tribun Bogor
Lokasi longsor di jalur puncak, Kabupaten Bogor, Rabu (28/3/2018) malam 

WARTA KOTA, PALMERAH---Kawasan puncak pass kembali mengalami longsor setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu (28/3/2018) malam.

Longsor selalu menghantui masyarakat, baik yang tinggal maupun melintasi kawasan tersebut, kala hujan mengguyur.

Baca: 2 Kombinasi Penyebab Longsor Terus Menerus di Puncak

Menurut Dadan Ramdan, Ketua Walhi Jawa Barat, struktur tanah di kawasan puncak yang menjadi bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) hulu Ciliwung-Cisadane dikenal gembur dan mudah tergerus air. Tak heran bila kawasan ini rawan longsor.

"Selain itu juga potensi gerakan tanahnya cukup besar. Ditambah lagi kondisi lingkungan alaminya yang sudah beralih fungsi oleh berbagai aktivitas," kata Dadan, Kamis (29/3/2018).

Dari sekitar 29.000 hektare luas area DAS hulu Ciliwung-Cisadane, sekitar 10.000 hektare atau lebih dari 30 persen sudah beralih fungsi menjadi hutan beton.

Baca: Longsor Puncak Bikin Kunjungan Wisatawan Menurun

Dalam arti, sudah banyak lahan yang dimanfaatkan untuk didirikan bangunan baik itu untuk hunian maupun kegiatan komersial.

"Belum lagi hutan yang hilang sekitar 3.000 hektar ekarena alih fungsi menjadi sarana wisata atau pertanian. Itu ada di beberapa kecamatan seperti Cisarua, Megamendung, Babakan Maja, dan beberapa wilayah lain," kata Dadan.

Longsor, kata Dadan, juga tidak terlepas dari perubahan cuaca ekstrim akibat pemanasan global.

Halaman
12
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved