Hal Buruk yang Terjadi Kalau Mobil Jarang Dibawa Ngebut
Kalau bisa memacu mobil dengan kecepatan tinggi, maka paculah. Kalau tak dilakukan maka hal buruk akan terjadi. Wah kenapa nih?
WARTA KOTA, PALMERAH -- Ternyata terus-terusan memacu mobil dengan kecepatan rendah akan membuat hal buruk terjadi.
Dealer Technical Support Toyota Astra Motor (TAM) Didi Ahadi mengungkapkan hal itu akan membuat terjadinya penumpukan karbon di ruang pembakaran.
Penumpukan endapan karbon akan membuat munculnya masalah di mesin.
Baca: Anak Pengusaha Perhiasan Bawa Orangtua Palsu di Pernikahannya
Baca: Penumpang Angkot Terbakar di Depok Kocar-Kacir
Baca: Wuling Segera Keluarkan SUV Murah Sekelas CR-V, Pajero, dan X-Trail
Baca: Jimny Jangkrik Reborn Dijual di Indonesia Tahun 2019, Modelnya Yahud
Terutama membuat mesin brebet dan akhirnya pemilik harus membayar mahal untuk tune up mesin.
Makanya, kata Didi, memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi dinilai perlu sesekali dilakukan.
Tujuannya menghilangkan endapan karbon yang menumpuk di ruang pembakaran.
"Dengan kondisi jalan di Jakarta yang macet dan mobil hanya dijalankan pada rpm rendah dapat menyebabkan penumpukan karbon di ruang pembakaran mesin," kata Didi kepada Kompas.com, Minggu (18/3/2018).
Bahkan Didi menyarankan pemilik mobil sesekali memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi.
Tentu harus mengacu pada kecepatan maksimal peraturan lalu lintas dan sebaiknya dilakukan di jalan tol.
Di jalan tol, kendaraan dapat dipacu pada kecepatan maksimal 100 kpj.
"Tidak perlu tune-up berbiaya mahal. Cukup sekali-kali diajak ngebut untuk menghilangkan dan membakar karbon yang menumpuk," ujar Didi.(Alsadad Rudi)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mobil Perlu Sesekali Dipakai Ngebut".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/suasana-jalan-tol-bekasi_20180312_091553.jpg)