Koran Warta Kota

Beredar Kabar Telur Palsu, Harga Tetap Stabil dan Warga Tak Terpengaruh

Para ibu itu tampaknya tidak terpengaruh dengan maraknya isu tentang beredarnya telur palsu di Jakarta.

Beredar Kabar Telur Palsu, Harga Tetap Stabil dan Warga Tak Terpengaruh
Koran Warta Kota
Headline Warta Kota edisi Rabu, 21 Maret 2018 

"Itu kan viral pengaduan tentang telur palsu pada tanggal 14 Maret. Besoknya, tim pengawas dari Dinas KPKP langsung melakukan konfirmasi. Hasil tindak lanjut pemeriksaan secara organoleptik didapat hasil bahwa telur-telur tersebut asli tidak palsu. Sampel telur itu asli, bahkan memiliki kuaitas baik," jelasnya saat memberikan klarifikasi kepada wartawan di Jakgrosir, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (20/3).

Menurut Sri, pihaknya melakukan pengujian baik secara fisik maupun kimia genetic.

"Secara fisik telur yang di cek mulai dari berat telur, bentuk telur, keadaan putih telur selaput dan rasanya dalam keadaan normal.

Untuk tes kimia genetic DNA memberikan respon positif artinya gen dari sampel telur itu adalah gen ayam," ujarnya.

Biaya besar

Dijelaskan Sri, telur tidak dapat dipalsukan. "Enggak mungkin telur dipalsukan. Kalaupun bisa, butuh biaya besar untuk melakukan itu. Jadi kami memastikan tidak ada telur palsu. Isu ini kan terjadi memang bukan hanya di Jakarta saja," ujarnya.

Hal itu juga disampaikan, Petugas Laboratorium Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan DKI Jakarta, Bambang Triyana. Ia menyebutkan, telur mempunyai komposisi yang lengkap sehingga sangat sulit untuk dipalsukan.

"Lagian, apa gunanya mereka melakukan pemalsuan telur? Karena butuh biaya yang besar dan memang juga mustahil untuk bisa dipalsukan," ucapnya.

Faktor alam

Sebelumnya, Direktur Ke­sehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Syamsul Maarif, juga menegaskan bahwa isu yang viral mengenai telur palsu adalah hoaks.

Kementan terjun ke lapangan untuk mencari tahu kebenaran info itu. Setelah diteliti, ternyata itu telur asli, tetapi bukan dalam keadaan baik.

"Kalau palsu tidak mungkin terjadi sehingga sulit sekali kita pahami ada yang palsu," ujar Syamsul dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (16/3), seperti dikutip Kompas.com.

Lagi pula, kata Syamsul, secara akal sehat, harga telur yang dipalsukan pasti lebih mahal.

Harganya bisa mencapai 1,5 kali lebih tinggi dari harga yang asli. Sebab, hal itu membutuhkan teknologi untuk merekayasa produk biologis.

Ditemukannya telur-telur dengan ciri tidak normal seperti kuningnya yang lembek, putih telur terlalu cair, atau tidak lengket di tangan kemungkinan karena faktor alam.

"Biasanya telur itu sudah terlalu lama. Atau ayamnya sakit sehingga memengaruhi telur," kata Syamsul.

Syamsul mengatakan, telur tidak bisa disimpan terlalu lama karena akan memengaruhi konsistensinya. Di peternakan, tidak ada telur yang disimpan lebih dari seminggu.

Begitu bertelur, keesokan harinya langsung didistribusikan ke konsumen. Idealnya, telur tidak disimpan lebih dari empat minggu. (m18/jos)

Baca selengkapnya di Harian Warta Kota edisi Rabu, 21 Maret 2018

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved