Breaking News:

Jadi Presiden Lagi, Putin Lanjutkan Kekuasaan Atas Rusia

Vladimir Putin menjadi pria terlama yang menjadi pemimpin Rusia sejak era Stalin, menyusul kemenangannya pada Pilpres Rusia 2018.

ru.slovoidilo.ua
VLADIMIR Putin 

WARTA KOTA, MOSKWA — Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut kemenangannya dalam pemilihan presiden 2018 yang digelar Minggu (18/3/2018) waktu setempat.

Di depan para pendukungnya yang merayakan kemenangan di Moskwa, dia mengatakan, hasil tersebut merupakan ungkapan kepercayaan dan harapan rakyat sambil menyerukan persatuan nasional.

Sejak awal Putin diperkirakan tidak akan menghadapi perlawanan ketat dalam upaya menduduki jabatan presiden untuk periode yang keempat dalam enam tahun mendatang. Dengan lebih dari setengah suara sudah dihitung, Putin telah meraih sekitar 75 persen suara.

Perolehan suaranya dalam pemilihan presiden tersebut meningkat dibandingkan pada 2012 ketika dia menang dengan perolehan 64 persen suara. Namun, perkiraan awal atas partisipasi pemilih mencapai 63,7 persen atau lebih rendah dari harapan pemerintah.

Bersaing dengan tujuh calon lainnya, Putin tidak mendapat perlawanan serius untuk menduduki kembali kursi presiden selama enam tahun mendatang.

Putin memerlukan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi untuk memperkuat legitimasinya sebagai pemimpin, di tengah ancaman semakin terisolasinya Rusia akibat sanksi baru Amerika Serikat dan tuduhan upaya pembunuhan mantan agen Rusia di Inggris.

Saat memberikan pidatonya, Putin mengatakan, hasil pemilu yang memberinya hak untuk melaksanakan tugas sebagai presiden lagi merupakan sebuah kesuksesan.

"Saya yakin program yang saya tawarkan adalah yang benar," ujar pria yang sudah menjadi pemimpin Rusia terlama sejak era Stalin.

Saingan Putin dalam Pilpres kali ini antara lain adalah seorang jutawan Pavel Grudinin, mantan pembawa acara TV Ksenia Sobchak, dan politisi beraliran nasionalis yang terkenal Vladimir Zhirinovsky. Namun, pemimpin oposisi utama Alexei Navalny telah dilarang ikut pemilu karena terbukti terlibat penipuan, yang menurut Navalny bermotif politik.

Dia menyerukan aksi boikot dan mengerahkan ribuan pendukungnya mengamati tempat-tempat pemungutan suara guna mengawasi kemungkingan kecurangan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved