Selasa, 21 April 2026

Dewi Lestari Harus Cium Muntahan Ikan Paus Demi Novel Terbarunya

Selama proses riset untuk karya terbarunya, 'Aroma Karsa', Dewi Lestari menjajal mencium aroma muntahan ikan paus.

TRIBUNNEWS/NURUL HANNA
Dewi Lestari saat jumpa pers perilisan novel 'Aroma Karsa' di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (14/3/2018). 

WARTA KOTA, CIPETE - Selama proses riset untuk karya terbarunya, 'Aroma Karsa', Dewi Lestari menjajal mencium aroma muntahan ikan paus.

Benda yang dapat terjual hingga ratusan rupiah itu, merupakan salah satu bahan dalam pembuatan parfum.

Selama proses riset, Dewi mengetahui bahwa untuk membuat suatu racikan parfum, maka dibutuhkan beberapa macam unsur bau. Satu macam unsur bau mungkin saja berbau tidak sedap, ketika dicium terpisah.

Baca: Dewi Lestari Blusukan ke Bantargebang Hingga Gunung Lawu Demi Lahirkan Aroma Karsa

"Saya sih enggak ngerti ya siapa yang pertama kali mencampurkan itu (muntahan ikan paus) ke dalam campuran parfum. Baunya amis banget itu, ini siapa yang kepikiran ya?" kata Dewi Lestari, ditemui dalam perilisan novel 'Aroma Karsa' di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (14/3/2018).

Dewi bercerita, muntahan paus mengering dan berada puluhan tahun di dasar laut, hingga akhirnya benda berupa bongkahan tersebut terbawa ke pinggir laut. Bongkahan tersebut yang akhirnya bernilai jutaan rupiah.

"Itu bisa dilelang laku Rp 500 juta dibeli oleh rumah-rumah parfum besar," ungkapnya.

Baca: Fahri Hamzah dan Fadli Zon Berikan Kartu Merah untuk Jokowi

Selain pengalaman tersebut, Dewi juga menyambangi beberapa tempat untuk karya ke-12-nya. Ia menyambangi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, mendaki Gunung Lawu, hingga kursus meracik parfum yang diselenggarakan Nose Knows di Singapura.

'Aroma Karsa' merupakan novel fiksi ilmiah yang menceritakan petualangan Raras Prayagung. Wanita tersebut mencoba mencari keberadaan tanaman kuno bernama Puspa Karsa.

Pencarian itu mempertemukannya dengan Jati Wesi, yang memiliki kepekaan penciuman yang melebihi manusia pada umumnya. Dalam ilmu kedokteran, kondisi tersebut diketahui sebagai hiperosmia.

Aroma Karsa lebih dulu terbit secara digital sejak 18 Januari 2018, dan berakhir 15 Maret 2018. Kendati baru dirilis pada 16 Maret 2018, novel ini sudah terjual lebih dari 10 ribu eksemplar melalui sistem pre order. (Nurul Hanna)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved