Jelang Asian Games 2018

Herry Iman Pierngardi Tetap Optimistis Raih Gelar di All England 2018

Herry mengaku masih menyayangkan undian yang tidak menguntungkan Indonesia khususnya ganda putra.

Herry Iman Pierngardi Tetap Optimistis Raih Gelar di All England 2018
djarumbadminton.com
Herry Iman Pierngadi 

Bicara soal peluang di All England, ganda putra menjadi andalan Indonesia untuk meraih gelar, bagaima komentar anda?

Untuk Hendra/Ahsan, saya kira penentuannya di babak kedua, melawan Zhang Nan/Liu Cheng (Tiongkok). Tetapi mereka juga harus waspada dari babak pertama, lawan pasangan Belanda (Jacco Arends/Ruben Jille), juga harus hati-hati. Kalau bisa lewat babak kedua, ada harapan lah. 

Soal Kevin/Marcus, sebelum saya berangkat ke Jerman, memang masih ada cedera sedikit di tangan Marcus, Kevin juga. Tetapi di sisa persiapan seminggu terakhir, saya rasa sudah membaik, walaupun tidak seratus persen. Mereka juga tahu dengan kondisi seperti ini, biasanya mereka akan mensiasati dengan perbedaan strategi permainan. Tapi juga kita harus tahu, Kevin/Marcus belum pernah merasakan aturan servis yang baru. 

Kevin/Marcus kalau mereka servisnya aman, saya rasa tidak terlalu ada kendala di All England 2018. Sebelum berangkat ke Jerman, kami sudah tiga kali mendatangkan hakim servis ke pelatnas untuk menilai servis Kevin/Marcus dan hasilnya aman. Paling Marcus satu dua kali fault, itu masih normal, karena sebelum ada aturan ini mereka kan juga suka di-fault satu dua kali, terutama Kevin. Tetapi dari tiga sesi pertemuan dengan hakim servis Indonesia tersebut, mereka bilang servis Kevin tidak ada masalah. Namun kita lihat saja kenyataan di pertandingan sesungguhnya. 

Bagaimana komentar anda soal aturan servis yang baru?

Ini merugikan untuk semua pemain, khususnya ganda. Kita harus mencari solusinya, jangan sampai kita terlalu lama menyalahkan aturan baru ini, bagaimanapun juga, aturan ini harus dijalani dan kita harus beradaptasi. 

Dengan uji coba di German Open 2018 kemarin, menurut saya, semua balik lagi ke service judge nya. Jadi kita bergantung pada seseorang, bisa saja dibilang kemenangan ditentukan oleh service judge. 

Seperti Fajar main dari babak pertama sampai semifinal German Open itu servisnya aman, tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali? Saya lihat posisinya servisnya sama, tingginya sama, semua sama, tapi service judge beda orang. 

Jadi yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga, jadi kalau dinyatakan salah, kita bisa challenge dengan bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan, ini lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan ini mutlak, tidak bisa diprotes. 

Baca: Widodo C Putro Target Raih Tiga Poin di Laga Kontra Thanh Hoa

Halaman
1234
Editor: Dewi Pratiwi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved