1,6 Juta Anak Indonesia Jadi Pengedar Narkoba

Bandar menargetkan anak-anak untuk dijadikan kurir narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Bandar menargetkan anak-anak untuk dijadikan kurir narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, pada 2017 terdapat 22 laporan yang diterima terkait kasus anak sebagai kurir narkoba. Di tahun yang sama, terdapat 46 anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Komisioner KPAI Bidang Anak Berhadapan dengan Hukum Putu Elvina memaparkan, jumlah anak dengan maksimal umur 18 tahun di Indonesia tercatat 87 juta orang.

Baca: Sindikat Pengedar Narkoba Incar Anak Sekolah Berprestasi, Begini Modusnya

"Tercatat 5,9 juta yang terpapar sebagai pecandu narkoba," ujar Putu di Kantor KPAI, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Putu menerangkan, sebagian dari mereka dijadikan sebagai kurir oleh bandar narkoba.

"27 persen di antaranya atau 1,6 juta anak dijadikan sebagai pengedar," kata Putu.

Baca: Pengamat Politik Universtas Paramadina: DPR Era Ini Tercerdas Sepanjang Sejarah

Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional Ali Djohar mengatakan, anak-anak dijadikan sasaran oleh pengedar sebagai kurir narkoba, dan bahkan merangkap sebagai penyalahguna dengan memanfaatkan efek kecanduan yang ditimbulkan.

"Kami temukan 2017, anak-anak diberikan secara gratis dulu, sehingga jadi pecandu. Kalau sudah candu, mereka ditawarkan kalau bisa antar ke beberapa tempat, kamu akan dapat satu," ungkap Ali.

Anak-anak diberikan narkotika jenis baru dengan mencampurkan ke dalam makanan atau minuman. Sehingga, tidak diketahui, bahwa ada kandungan narkoba.

Baca: Ini Tiga Penyebab Kekalahan Partai Demokrat di Pilpres 2014 Menurut AHY

Kepala Sub Direktorat Bimbingan Industri Farmasi BPOM Moriana Hutabarat menerangkan, pihaknya terus melakukan pengawasan dan pengujian terhadap makanan dan minuman yang dicurigai berbahaya, khususnya yang mengandung narkoba di sekolah-sekolah.

Sejauh ini, dari hasil pemeriksaan laboratorium, tak ada produk makanan atau minuman yang dijual di pasaran mengandung narkotika. Jika ada, produk tersebut dimanfaatkan oleh pengedar narkoba dengan mencampurkan kandungan barang haram tersebut.

"Antisipasi agar anak anak tidak menerima makanan minuman dari orang asing, BPOM dari 2012 sudah bekerja sama melakukan pengawasan jajanan anak sekolah, dari bahan berbahaya," papar Moriana. (Dennis Destryawan)

Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved