Napak Tilas Kejayaan Rempah Nusantara di Bellezza Shopping Arcade

Sebuah pameran bertema langka digelar di Pusat Perbelanjaan Bellezza Shopping Arcade di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Penulis: Feryanto Hadi |
Warta Kota/Feryanto Hadi
Pameran rempah-rempah di pusat perbelanjaan Bellezza Shopping Arcade, Jakarta Selatan. 

WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA---Sebuah pameran bertema langka digelar di pusat perbelanjaan Bellezza Shopping Arcade di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Para pegiat budaya dan sejarawan, mengelar pameran yang berisi napak tilas kejayaan rempah di Indonesia. Pameran ini mulai 1 Maret hingga 16 Maret 2018.

Bram Kus Hardjanto, Ketua Yayasan Negeri Rempah, mengatakan, kehadiran pameran ini tidak luput dari keperdulian terhadap rempah, yang telah mencatatkan sejarah penting bagi perjalanan bangsa ini.

Bram mengatakan, rempah dari Indonesia pada masa lampau menjadi semacam harta karun yang terus diburu oleh bangsa-bangsa besar saat itu.

Sejumlah peperangan besar yang termaktub dalam catatan sejarah dunia juga terjadi akibat perebutan rempah di Nusantara, khususnya di pulau-pulau di wilayah perairan Maluku.

"Kami hanya ingin mengingatkan kembali kepada masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa bangsa kita dahulu pernah jadi perhatian seluruh pelosok dunia karena keberadaan rempah," kata Bram.

Bram mengatakan, dulu segenggam pala sudah bisa membiayai ekspedisi Eropa Indonesia karena sangking mahalnya.

"Penjajah pada masa itu melihat rempah-rempah seperti emas. Bayangkan nilainya rempah-rempah seperti emas yang sangat bernilai. Mereka mengeruk dan dijual dengan harga mahal di pasar dunia," kata Bram.

Bram mengatakan, dalam pameran bertajuk 'Rempah Dalam Geliat Kebudayaan Indonesia' ini, generasi penerus bangsa diharapkan bisa mengenal rempah-rempah sebagai hasil kekayaan bangsa Indonesia.

"Sebab, karena rempah-rempah negara kita dijajah. Karena rempah pula tercipta sejarah-sejarah tak terlupakan yang menjadi bagian penting perjalanan negara ini," kata dia.

Bram mengatakan, pameran serupa sudah dilakukan pihaknya sejak tahun 2015 lalu sebagai bentuk informasi dan edukasi kepada masyarakat.

"Kami ingin mengingatkan kembali melalui cara yang berbeda. Sebab, faktanya, kebanyakan sejarah masa dulu dijelaskan oleh guru-guru secara monoton. Jadi mungkin anak-anak tidak begitu tertarik untuk mendalaminya," katanya.

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved